Cabai Produksi Lokal Jangan Dikirim ke Luar Daerah

Hj. Putu Selly Andayani (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Harga cabai di NTB diprediksi akan tetap tinggi di atas Rp55 ribu per Kg hingga Agustus mendatang. Pasalnya, saat ini petani di NTB baru masuk musim tanam.

‘’Di sini petani baru nanam cabai. Sekitar akhir Agustus atau awal September baru panen,’’ kata Kepala Dinas Perdagangan NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M. Si dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Selasa, 16 Juli 2019.

Ia menyebut produksi cabai di NTB masih terbatas, sekitar 1 ton per hari. Cabai produksi lokal tersebut dikirim ke pasar-pasar tradisional yang ada di NTB. Cabai produksi lokal dilarang dikirim ke luar daerah.

‘’Dilarang produksi cabai NTB dikirim ke luar daerah. Karena kita membutuhkan di dalam daerah. Nanti September baru panen raya. Sekarang baru ada 1 ton per hari,’’ sebutnya.

Selly mengungkapkan, harga cabai di tingkat petani di NTB sebesar Rp42.000 per Kg. Sedangkan di tingkat pedagang dijual seharga Rp55.000 per Kg. Di bandingkan daerah lain, kata Selly, harga cabai di NTB lebih murah. Karena di luar daerah harganya mencapai Rp100 ribu per Kg.

Beberapa hari lalu, harga cabai di Kota Mataram mencapai Rp60 ribu per Kg. Terkait dengan harga cabai di Dompu yang menembus Rp80 ribu per Kg, Selly mengatakan karena cabai asal Lombok yang dijual ke sana.

Dengan harga sebesar Rp42.000 per kg di tingkat petani. Selly mengatakan tidak mungkin harga di tingkat pedagang sebesar Rp30.000 per Kg. Ia tak memungkiri tingginya harga cabai akan mengakibatkan inflasi meningkat pada bulan Juli. ‘’Inflasi ndak apa-apa. Lebih susah deflasi, karena petani menangis,’’ katanya.

Untuk mengatasi persoalan yang  terulang tiap tahun ini, Selly menyarankan perlunya diterapkan sistem Controlled Atmosphere Storage (CAS) di daerah-daerah sentra produksi cabai, sayuran, bawang merah dan jagung. Sehingga ketika panen raya, produk pertanian tersebut dapat disimpan dan dijual ketika harganya bagus.

Dengan sistem CAS, komoditas pertanian yang sering menjadi penyebab inflasi tersebut tetap segar sampai enam bulan.  Nantinya, hasil produksi petani dimasukkan ke gudang dan dibayar 70 persen oleh perbankan. Sisanya sebesar 30 persen dibayar belakangan. (nas)