Industrialiasi, Gagasan Besar yang Belum Populer

Azis Bagis (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Program industrialisasi adalah program besar yang digagas Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakilnya, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah. Program ini belum populer di masyarakat. Lebih-lebih eksekusinya.

Program industrialisasi ini adalah gagasan besar untuk membangun NTB. Karena itu, dibutuhkan eksekutor-eksekutor yang kreatif mewujudkan NTB sebagai daerah yang diharapkan berkembang industri manufactur ke depannya. Dr. Aziz Bagis, dari Fakultas Ekonomi Unram yang juga turut mempertanyakan wujud program ini.

Konsep industrialiasi dalam arti yang populer, adalah pendirian pabrik, atau berkembangnya industri manufactur yang dapat meningkatkan kapasitas produksi bahan setengah jadi menjadi bahan jadi. Saat ini belum terlihat wujud industrialisasi yang dinginkan kepala daerah.

Karena itu, menurut Dr. Azis Bagis, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan dan dinas lainnya harus membangun komunikasi yang lebih luas dengan konseptor industri. Konseptor bisa melibatkan pelaku usaha. Atau dapat melibatkan perguruan tinggi.

Baca juga:  Percepat Industrialisasi, NTB Harus Naikkan Kelas Produk Lokal dan Substitusi Impor

“Saya yakin, masyarakat NTB juga belum paham soal industrialisasi. Oleh karena itu, konsep industrialisasi pemerintah daerah ini harus secepatnya di eksekusi menggandeng stakeholder. Libatkan banyak pihak,” ujarnya.

Konsep industri yang dijalankan oleh OPD adalah konsep industrialisasi sederhana atau ide-ide lama. Dilihat dari produk di pasaran dan para pelaku usahanya. Masih melaksanakan industrialisasi secara konvensional.

Wajar menurut Dr. Azis, sebab pelaku usaha cukup terbatas produktivitas idenya untuk menjalankan konsep industrialisasi yang lebih modern. Karena itulah, OPD seharusnya menghubungkan pelaku usaha dengan para konseptor sebagai penyetok ide untuk membangun semodel industrialisasi yang lebih kekinian.

“Saya rasa industrialisasi tak murni bertumpu pada modal. Namun yang paling mendasar adalah kreativitas mendesain konsep industri yang akan dibangun. Idenya itu seperti apa. Itu dulu, baru mengarah kepada sarana dan prasarana pendukungnya,” ujarnya. Karena itu, Dinas Perindustrian, dan OPD lainnya  harus mau lebih terbuka membangun hubungan dengan produsen-produsen ide tentang industrialisasi,” jelas Dr. Azis.

Baca juga:  Percepat Industrialisasi, NTB Harus Naikkan Kelas Produk Lokal dan Substitusi Impor

Jangan sampai menurutnya, konsep industrialisasi diterjemahkan kaku hanya membangun industrialisasi seperti yang sudah dibangun di daerah lain. Sebut saja Jawa. Misalnya industri kopi, industri tekstil. Menurutnya, jangan hanya itu. Atau di NTB hendaknya jangan mengembangkan industri kerajinan yang sudah lazim dikembangkan selama ini. Seperti cukli atau tenun.

“Ide-ide industrialiasasi itu harus dicari terus dan lebih bagus. Jangan yang sudah ada,” saran Ketua Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Provinsi NTB ini. Pengertian industrialisasi konvensional secara teori adalah mengembangkan industri-industri yang sudah ada dengan konsep lain.

Menurutnya, perguruan-perguruan tinggi memiliki ide-ide dan temuan yang tidak sedikit terkait industri. Baik di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan dan lainnya. Itulah yang mestinya dimanfaatkan oleh Pemda untuk membangun jaringan usaha. Karena industrialisasi adalah program besar. Maka , menurut Dr. Azis Bagis, seluruh pihak harus bergerak. (bul)