Rendah, Harga Garam di Lotim

Penjual garam di Desa Pijot Kecamatan Keruak Kabupaten Lotim (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Harga garam yang dibeli kepada para petambak garam di Lotim terbilang sangat rendah. Saat ini harga beli di petani tambak garam ini Rp30-35 ribu ukuran 20 kilogram (kg). Terbagi perkilogramnya hanya Rp1.500. Semestinya, pada saat ini harga garam mahal. Dulunya, sempat menembus Rp100-150 ribu per 20 kg.

Demikian dipaparkan Ketua Kelompok Perempuan Petani Garam Mutiara Selatan Desa Pijot Kecamatan Keruak Kabupaten Lotim, Muliana. Menjawab Suara NTB, Muliana menaruh harapan besar pembudidaya garam di Lotim ini mendapat perhatian.

Utamanya keberpihakan terhadap harga. Pasanya, proses budidaya garam ini memerlukan waktu yang cukup lama. Dibutuhkan waktu paling singkat satu bulan baru bisa dapat hasil. Saat hujan, dipastikan petani tidak akan bisa melakukan budidaya garam. Garam tidak bisa dikristalisasi.

Melihat harga yang berlaku saat ini, tidak ditampik memang bisa menguntungkan bagi petani. Akan tetapi tidaklah seperti musim sebelumnya yang harganya cukup bagus. Untuk bisa disebut menguntungkan setidaknya harga ukuran 20 kilogram ini katanya Rp100 ribu.

Muliana sejauh ini juga membuat garam lembut. Ia memastikan garam yang diproduksi dan dijual ramai di pinggir-pinggir jalan di Desa Pijot ini sudah mengandung yodium. Sudah dilakukan proses iodisasi sesuai arahan pemerintah. Harga bahan yang digunakan iodisasi dibeli Rp100 ribu sekali penaburan.

Biaya produksi memang tidak seberat budidaya pertanian, akan tetapi cukup melelahkan. Tidak jarak petani petambak garam ini gagal dalam melakukan budidaya. Dibutuhkan keuletan dan ketekunan dari para petambak. Sehingga bisa menghasilkan garam yang lebih baik.

Baca juga:  Pemerintah Diminta Perkuat Industri Garam

Garam lokal yang diproduksi di Serumbung Kecamatan Jerowaru dan Pijot Kecamatan Keruak ini lebih sering kalah saing dibandingkan dengan produk garam luar daerah. Utamanya garam-garam dari Bima yang diketahui kerap banyak yang datang dan membuat harga garam lokal Lombok ini anjlok.

Belum lagi garam-garam impor yang dijual di supermarket atau ritel-ritel modern. Para pembudidaya garam ini sudah mencoba menghasilkan garam dengan kualitas terbaik. Termasuk membuat garam lembut yang dilihat dari segi warna tidak kalah dibandingkan garam-garam produk luar.

Hasil kemasan yang dibuat para ibu-ibu petambak ini bisa menjual lebih mahal. “Bisa dijual Rp5 ribu perkilogram,” terangnya. Saat harga membaik, ukuran satu kemasan ini pun bisa dijual seharga Rp10 ribu.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim, Harpi Muhammad tidak menampik fakta persoalan garam lokal. Utamanya dari sisi kualitas garam yang masih kurang bagus. Sementara dari segi potensi sendiri, disebut Harpi di Lotim sejauh ini 1.383 hektar. Tahun 2018 lalu garam diproduksi di atas lahan seluas 1.177 ha dengan total produksi mencapai 1.678.621 ton.

Produksi garam di Lotim diakui cukup banyak. Akan tetapi masih lemah dari sisi pemasaran. Ia tidak menampik  sentuhan teknologi sangat diperlukan petani petambak garam agar bisa menghasilkan garam yang lebih putih dan bersih. Potensi lahan tambak garam di Lotim tersebar di dua kecamatan di bagian Selatan Lotim.

Baca juga:  Pemerintah Diminta Perkuat Industri Garam

Yakni Kecamatan Keruak dan Kecamatan Jerowaru. Produksi tahun 2018, sebutnya masih banyak tersimpan di gudang-gudang warga dan belum laku terjual. Tahun 2019 ini sendiri belum ada produksi karena musim hujan. Sejak Januari sampai sekarang belum ada aktivitas produksi garam.

Diakui banyak petambak yang mengeluh soal harga yang saat ini Rp80 ribu perkarung. Harga ini terbilang jauh dari yang diharapkan petambak. Akan tetapi ketimbang tidak laku, dipersilahkan untuk dibeli dengan harga berapapun. “Itu pengakuan petambak garam saat kita kunjungi  beberapa waktu lalu,” tutur Harpi. Sebelumnya, harga jual dari garam ini cukup bagus. Bisa tembus Rp 200 sampai dengan Rp 300 ribu perkarung.

Sentuhan teknologi dan bantuan pemerintah sudah dilakukan. Namun terbatas. Sejauh ini masih sebagian kecil saja petambak yang memanfaatkan teknologi budidaya garam. Disebut ada teknologi Geomemran yang bisa diterapkan agar bisa menghasilkan garam yang lebih putih dan bersih. Tidak bercampur dengan tanah.

Teknologi geomembran itu sebutnya cukup sederhana. Menggunakan plastik yang diletakkan di tambak garam. Seperti yang sudah dilakukan di Madura disebut Harpi sudah menggunakan atap tandon tambak garam sehingga produksi bisa dilakukan selama musim hujan. (rus)