Agar Tak Bergantung dari Bali, Pengusaha Tuna Minta Diberi Pelatihan Ekspor

Ikan tuna di UD. Baura dalam proses persiapan pengiriman ke Bali. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – NTB memiliki potensi  ekspor dari komoditas kelautan perikanan yang tidak kecil. Salah satunya tuna. Sayangnya, pengusaha hanya menjualnya antar daerah. Lalu diekspor oleh pengusaha luar, terutama pengusaha dari Bali.

Tentu berbagai keuntungan terkait aktivitas ekspor tak bisa masuk ke daerah. Karena itu, pengusaha ikan tuna mengharap pemerintah daerah memfasilitasi pelatihan tata cara ekspor agar pengusaha lokal menjadi eksportir mandiri.

Hal ini dikemukakan salah Direktur UD. Baura, Askar Baura. Salah satu perusahaan pengusaha ikan terbesar di NTB, berbasis di Labuan Lombok, Lombok Timur. Jika dihitung -hitung, jumlah ikan tuna yang dikirim antar pulau tidak kecil. Ia sendiri dalam seminggu rutin mengirim ke Bali sebanyak 8 ton.

Lalu tiga pengusaha ikan lainnya yang ada di Labuan Lombok juga demikian. Diambil rata ratanya satu pengusaha mengirim 8 ton seminggu. UD. Baura sendiri memiliki 400 perahu milik nelayan binaannya di Labuan Lombok dengan kapasitas kapal 20 gross tonage (GT) ke atas. Penangkapan ikan dilakukan hingga ke 300 mil laut.

Bahkan sampai ke perbatasan perairan Australia. Penangkapan dilakukan di 50 rumpon (rumah ikan) yang dibuat oleh pengusaha. Dengan potensi ikan tuna ekspor sebesar ini, pengusaha mengharapkan seluruh kegiatan ekspor dapat dilakukan langsung dari NTB.

“Cuma kita ndak tau caranya. Dokumen dokumen apa yang harus kita siapkan. Alur ekspornya bagaimana,” kata Askar. Soal fasilitas ekspor, pemerintah tengh membangun fasilitas ekspor di Pelabuhan Gili Mas, Lembar Lombok Barat dan Pelabuhan Awang, Lombok Tengah. Harapannya, infrastruktur ekspor ini nantinya dapat dimanfaatkan langsung oleh pengusaha lokal.

Askar mengatakan, pengiriman tuna ke Bali tak pernah absen. Tidak saja tuna, cakalang dan baby tuna juga tak sedikit dipasok ke Bali oleh pengusaha pengusaha ikan di Labuan Lombok. Salah satu keuntungan yang hilang akibat tak ekspor langsung yakni penjualan antar pengusaha di dalam daerah menggunakan nilai rupiah. Sebaliknya, pengusaha Bali kemudian menjualnya dengan nilai mata uang internasional, Dolar.

Nah, karena itulah,  kita sebagai pelaku usaha meminta tolong kepada pemerintah. Pengusaha diberikan jalan. Dibimbing dari hulu ke hilir agar ekspor itu berhasil. Dari sana kita tahu jalurnya (ekspor),” jelas Askar. Pertemuan pertemuan terkait ekspor, selalu ada. Tapi berlanjut sampai tindak lanjut kata Askar.

Bagaimana pengusaha ikan dibimbing/diarahkan hingga ke buyer. Pengusaha tuna berjalan betul betul mandiri. Wajar, bila masih banyak keterbatasan dan hambatan untuk melakukan ekspor langsung dari NTB. Akibat ketertinggalan dari pengusaha Bali ini, pasar ekspor ikan tuna ke Filipina, Jepang dan Singapura belum tersentuh langsung oleh pengusaha tuna NTB.

“HAACP (Hazard Analisys Critycal Control Point) sebagai salah satu syarat ekspor yang dikeluarkan oleh Karantina Ikan, kita sudah punya. Fasilitas juga sudah ada, bandara walaupun kapasitasnya terbatas,” demikian Askar. (bul)