DKP Siapkan Rencana Besar Industrialisasi Sektor Kelautan Perikanan

Ikan pindang yang telah diolah higienis dan dikemas. Ini merupakan bagian dari proses industrialisasi di sektor kelautan perikanan (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kelautan Perikanan Provinsi NTB tak luput diabsen oleh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah agar melaksanakan direktifnya, tahun depan mulai terwujud pembangunan pabrik (industrialisasi) untuk pengelolaan potensi sumber daya kelautan perikanan di daerah ini.

Kepala Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Provinsi NTB, Ir. L. Hamdi, M.Si menjabarkan rencana besar industrialisasi di sektor kelautan perikanan, seperti yang diharapkan pemimpin tertinggi di daerah ini. L. Hamdi menjelaskan, industrialisasi olehnya dibagi menjadi dua kluster.

Kluster pertama, kluster yang berorientasi kerakyatan. Misalnya UPI (Usaha Pengolahan Ikan), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang telah jalan. Tinggal ditingkatkan. Demikian juga untuk rumput laut dibuat beragam turunannya.

Kemudian rencana besar di Bima akan dibangun pabrik garam. Inipun dua kluster. Kluster pertama garam untuk kebutuhan masyarakat di NTB, akan didorong pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) pengolah garam. Kedua industri besar akan dibangun pabriknya di Bima pada 2021. “Tahun 2020 kita siapkan tanahnya,” kata L. Hamdi kepada Suara NTB di Mataram, Jumat, 28 Juni 2019 kemarin.

Baca juga:  Pengembangan Industri di NTB Jadi Perhatian Pusat

Tengah disusun masterplan roadmapnya sampai dengan tahun 2024. Dimulai dengan intensifikasi dengan memperbaiki kualitas produksi garam dari tambak. Produksinya kemudian dilakukan di pabrik. Untuk pasar dalam daerah akan diolah garam berkualitas. Sementara untuk penjualan ke luar NTB akan diolah hingga pengemasan.

Akan dibangun terintegrasi, pusat pembelajaran dan inkubasi garam. Dibangun juga lembaga keuangan non bank, cabang dari lembaga keuangan non bank milik Kementerian Kelautan Perikanan yang cabangnya dibuat di Bima. Lalu dibangun laboratorium sertifikasi garam. Lalu akan dibangun juga pabrik pengolahan garam.

“Anggarannya didukung APBN/APBD,” jelas kepala dinas. Kemudian untuk ikan, tahun 2020 akan dibangun cold storage di Pelabuhan Awang, Kabupaten Lombok Tengah. Dengan kapasitas besar dan harapannya, konsisten perencanaan yang telah diusulkan ke pusat. Saat ini dilakukan upaya terus memperbanyak kedatangan kapal.

Baca juga:  Kembangkan Industri Peternakan, Kesinambungan Bahan Baku Jadi PR NTB

Sudah ada 17 kapal berkapasitas 100 GT, dari target 100 kapal yang direncanakan masuk Awang. Tahun 2020 dibangun pabrik pengolahan ikan yang mendarat di sana. Sementara industri-industri kecil (rumahan), tahun ini akan didorong perbaikan kualitas ikan pindang. Kenapa? Mengingat ikan pindang volumenya cukup besar sekitar 31.000 ton dalam setahun. Tetapi kualitasnya yang masih menjadi PR perlu ditingkatkan. “Pasarnya juga hanya lokal, pasar tradsional saja,” kata L. Hamdi.

Apa yang akan dilakukan tahun ini? diberikan pelatihan kepada kelompok pemindang ikan di Lombok Utara sebagai pilot project dalam rangka produksi ikan pindang higienis. Kemudian bantuan sarana prasarana standar juga diberikan kepada kelompok. Lalu difasilitasi temu bisnis matching antara kelompok pengolah ikan pindang dengan pasar – pasar potensial. Seperti perhotelan, ritel, katering, dan lembaga potensial lainnya. “Produksinya sudah higienis,” demikian kepala dinas. (bul)