Harga “Emas Hijau” Harus Berpihak ke Petani

Petani tembakau di Lotim sedang menggarap tanamannya. Mereka dihadapkan dengan pembatasan pembelian tembakau oleh perusahaan yang berdampak pada usaha. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Dibatasinya pembelian tembakau oleh perusahaan mitra menjadi ancaman bagi para petani tembakau di daerah ini. Pasalnya, pembatasan itu dikhawatirkan menjadi pemicu petani merugi lantaran hasil budidaya tembakau yang sudah memakan biaya cukup besar tidak sesuai dengan penjualan. Maka dari itu, Dinas Pertanian (Distan) Lotim siap melakukan penekanan dalam penetapan harga “emas hijau” tersebut bersama pihak perusahaan.

“Memang petani kita dilema dengan pembatasan penjualan ini. Namun nanti kita perjuangkan harga, sehingga benar-benar berpihak kepada petani berdasarkan kesepakatan bersama perusahaan,” terang Plt. Kepala Dinas Pertanian Lotim, H. Abadi dikonfirmasi Suara NTB, Rabu  26 Juni 2019.

Langkah-langkah penekanan ini, seperti biaya produksi, sehingga harga dapat menguntungkan petani sesuai kesepakatan bersama perusahaan. Terlebih saat ini dilakukan pembatasan pembelian tembakau petani oleh pihak perusahaan. Misalnya, dari 3 hektar lahan pertanian tembakau petani, perusahaan mitra hanya menyerap tembakau petani sebanyak 3 ton. Sementara dari lahan 3 hektar itu menghasilkan 7-8 ton tembaku kering. “Kita berharap perusahaan membeli tembakau petani dengan harga yang layak dengan mempertimbangkan biaya produksi,” ujarnya.

Kendati demikian, tidak ditampik juga bahwa dalam pembelian itu harus melihat kualitas dari tembakau itu sendiri. Artinya, keinginan sesuai kesepakatan itu dapat terpenuhi terlebih dahulu barulah dilakukan penekanan harga terhadap perusahaan mitra. “Kita juga akan melihat kualitas petani tembakau kita. Itu juga harus kita pertimbangkan supaya antara petani, perusahaan, dan pemerintah tidak terjadi permasalahan di kemudian hari,” terangnya.

Abdul Kadir, petani tembakau virginia di Desa Stanggor Kecamatan Sukamulia Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengaku apabila tembakaunya bagus, maka keuntungan yang bisa didapat hingga ratusan juta. Sebaliknya, apabila kualitas buruk kerugian yang cukup besar menanti. Hal tersebut dikarenakan untuk satu hektar lahan pertanian tembakau, biaya yang dikeluarkan berkisar dari Rp20 juta hingga Rp50 juta. Sementara para petani tembakau di Kabupaten Lotim menggarap lahan sekitar 2 hektar hingga 4 hektar lebih. “Kita sangat berharap faktor cuaca dapat bersahabat untuk menghasilkan tanaman tembakau dengan daun yang cukup berkualitas,”harapnya. (yon)