Bangkitkan Sektor Pariwisata, NTB Dialokasikan Rp6 Triliun dari Pinjaman Bank Dunia

Heri Prihatin (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Bank Dunia menggelontorkan pinjaman untuk membangun sejumlah Bali baru di Indonesia. Oleh pusat, NTB kebagian sekitar Rp6 triliunan. Dengan dana pinjaman ini, Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Provinsi NTB mengharapkan alokasinya lebih tepat sasaran untuk menggairahkan kembali sektor pariwisata NTB yang tengah mati suri.

“Ini bukan dana sedikit, lebih besar dari dana gempa yang digelontorkan pusat. Harus dikonsep betul-betul pemanfaatannya,” kata Ketua Kadin Provinsi NTB, L. Heri Prihatin IR.

Kadin adalah bagian dari Pokja yang ikut terlibat dalam membangun konsep untuk mengarahkan dana pinjaman negara ini agar lebih tepat sasaran.

Bagian dari alokasi dana ini adalah membangun infasstruktur pendukung sektor pariwisata di NTB. Misalnya, menghidupkan kembali pariwisata Senggigi dengan melakukan penataan-penataan agar objek wisata legendaris ini dapat menggairahkan minat wisatawan berkunjung.

Baca juga:  Pembebasan Lahan Sirkuit MotoGP, Gubernur dan Bupati Loteng Turun Tangan

‘Sektor pariwisata kita butuh banyak pembenahan. Karena itu, jangan alokasikan dana ini misalnya untuk menyulam jalan-jalan yang sudah ada. Buat konsep yang berbeda di destinasi wisata kita,” jelas Heri Prihatin. Besar kemungkinan, tahun ini telah dicairkan oleh Bank Dunia. Pembentukan Pokja di daerah telah dilakukan. Sejumlah stakeholders yang bergerak di jasa-jasa pariwisata terlibat di dalamnya.

“Tapi jangan kemudian dana ini menjadi dana proyek,” ujarnya.

Heri menegaskan, jika alokasinya pada pembangunan infrastruktur. Diharapkan, pengusaha-pengusaha lokal yang dilibatkan agar mengambil manfaat lebih besar. Harapannya, jika porsinya lebih besar ke infrastruktur, tidak lagi dikerjakan sepenuhnya oleh BUMN.

Baca juga:  Bangun Infrastruktur Pariwisata, NTB Peroleh Bantuan Bank Dunia Rp3 Triliun

Pengusaha-pengusaha lokal siap melaksanakannya. Dengan demikian, manfaatnya untuk menggerakkan ekonomi lokal juga dapat terwujud. “Siapa saja yang dilibatkan orang lokal. Tergantung kita. Jangan semuanya diserahkan kepada BUMN. Apapun alokasinya, sebisa mungkin prioritaskan SDM lokal. Harapan kita bersama, dana ini juga dapat menstimulus lahirnya pemain-pemain baru bagi di sektor jasa,” imbuhnya.

Konsep pariwisata harus betul-betul dimatangkan. Menurut L. Heri, harus diubah konsepnya. Jika mengadopsi konsep pariwisata yang ada di Bali, ia mengibaratkan sama-sama pedagang warung yang menjual minuman dan menu yang sama.

“Kalau sekarang jual makanan yang sama, susah. Konsep kita harus beda agar harapan Bali baru ini bisa terwujud,” demikian L. Heri. (bul)