Daging Beku Dijual Bebas, Produksi Daging Lokal Dikhawatirkan Terganggu

Ilustrasi (daging beku)

Mataram (Suara NTB) – Daging impor mulai dijual bebas di sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram. Hal ini dikhawatirkan mengganggu produksi daging lokal.

Kepala Dinas Perdagangan, H. Amran M. Amin menyampaikan, masuknya daging beku ke NTB dan khususnya di Kota Mataram, tidak ada kaitannya dengan proses perizinan di instansinya. Kewenangan itu menjadi ranah Dinas Perdagangan NTB.

“Kalau di Dinas Perdagangan Kota Mataram hanya kaitannya dengan izin swalayan dan pasar tradisional serta izin minuman beralkohol,” kata Amran ditemui, Selasa, 18 Juni 2019.

Daging impor sejak bulan Ramadhan dijual oleh pedagang di pasar, tetapi tidak secara masif. Sebab kebutuhan daging beku digunakan oleh hotel, restauran dan pengusaha katering. Bagaimana pun juga menurut Amran, masyarakat lebih memilih daging lokal untuk dikonsumsi. “Masyarakat juga was – was kalau beli daging impor,” ucapnya.

Baca juga:  Rendah, Harga Garam di Lotim

Masuknya daging impor di Kota Mataram, dikhawatirkan mengganggu produksi daging lokal. Saat ini kata dia, para pejagal kesulitan memasukkan sapi dari Pulau Sumbawa ke Lombok. Izin memasukkan sapi sulit diperoleh oleh pengusaha.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Ir. H. Mutawalli menyampaikan, daging lokal dengan daging beku di Kota Mataram dari tahun ke tahun tidak pernah ada masalah. Pihaknya mengendalikan pasokan daging beku untuk dijual oleh pedagang.

Diakui, kebutuhan daging beku 14 ton per bulan. Sedangkan, kebutuhan daging di Kota Mataram mencapai 100 ton – 120 ton per bulan. “Sempat ada kenaikan kebutuhan daging beku mendekati Ramadhan mencapai 25 ton,” kata Mutawalli.

Artinya, kebutuhan pasokan daging lokal relatif tinggi. Mutawali menegaskan, masuknya daging beku ke pasar tradisional sebenarnya tidak ada masalah bagi pejagal atau peternak sapi. Kebutuhan daging lokal maupun daging beku memiliki segmentasi berbeda. Untuk daging beku diperuntukkan bagi pedagang bakso, sosis dan seterusnya. Sementara, daging lokal dikonsumsi langsung oleh masyarakarat.

Baca juga:  Harga Cabai di Mataram Tembus Rp80.000

Tingginya minat masyarakat mengkonsumsi daging lokal bisa dilihat dari tingkat pemotongan sapi di rumah potong hewan (RPH) Majeluk mencapai 20 – 25 ekor per hari. Dan, RPH Gubuk Mamben 25 ekor – 30 ekor per hari. “Kalau di Sumbawa ndak tahu apa pengaruhnya,” tandasnya.

Masyarakat pun diingatkan tidak mudah tergiur dengan harga daging murah. Secara kualitas, daging lokal lebih bagus dibandingkan daging beku. Daging beku didatangkan dari India dan Australia merupakan daging kerbau. (cem)