Perkuat Ekspor Non Tambang, NTB Perkaya Hasil Perikanan Budidaya dengan Teripang dan Kepiting

Nelayan tengah memanen kerang mutiara hasil budidaya. Mutiara adalah salah satu komoditas kelautan perikanan penyumbang ekspor non tambang NTB (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – NTB berorientasi mengembangkan teripang dan kepiting untuk memperkuat kontribusi ekspor non tambang dari komoditas kelautan perikanan. Beberapa kurun waktu terakhir, ekspor komoditas hasil penggalian (tambang) dari NTB mengalami penurunan yang drastis pascaberalihnya kewenangan pengelolaan tambang Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat dari PT. Newmont Nusa Tenggara ke PT. Amman Mineral Nusa Tenggara.

Komoditas non tambang terutama sektor kelautan perikanan dalam setiap ekspos hasil pendataan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan komoditas paling dominan. Terakhir Nilai ekspor Provinsi NTB Bulan April  2019 mengalami penurunan cukup tinggi jika dibandingkan dengan ekspor  Bulan Maret 2019, yaitu sebesar 83,50  persen. Nilai ekspor Bulan April 2019 hanya sebesar US$ 2.676.537, sedangkan Bulan Maret 2019 mencapai US$ 16.219.947. Penurunan yang cukup tinggi ini karena pada bulan ini tidak ada ekspor tambang.

Jenis barang ekspor Provinsi NTB yang terbesar pada bulan April 2019 adalah Ikan dan Udang senilai US$ 1.409.687 (52,67 persen), Daging dan Ikan Olahan US$ 561.948 (20,99 persen), Perhiasan/Permata sebesar US$ 356.458 (13,32 persen), serta Garam, Belerang, dan Kapur sebesar US$ 263.234 (9,83 persen).

NTB memiliki potensi yang tidak kecil sebagai penyumbang ekspor komoditas perikanan kelautan. Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Ir. L. Hamdi, M.Si menyebut, Pemprov NTB terus mengembangkan budidaya komoditas kelautan perikanan yang memiliki nilai jual tinggi agar ekspor non tambang NTB terdongkrak.

Baca juga:  Percepat Industrialisasi, NTB Harus Naikkan Kelas Produk Lokal dan Substitusi Impor

“Teripang sudah dicoba di Teluk Santong, sudah jalan delapan bulan. Demikian juga Kepiting di Dompu,” kata L. Hamdi. Teripang adalah vertebrata (hewan tak bertulang belakang) laut yang memiliki peluang pasar internasional. Hampir seluruh permintaan luar negeri dipenuhi dari pengambilan di alam.

Sementara budidayanya sangat minim. Karena itu NTB tertarik  ingin mengembalikan NTB yang dulunya turut terkenal sebagai penghasil teripang. Dalam kontek yang lebih luas. Kepala dinas sangat meyakini kontribusi kelautan perikanan terhadap ekspor NTB akan terus meningkat.

Beberapa pandangan dikemukakan. Luas laut NTB sekitar 29.000 Km persegi. Tahun 2018 produksi kelautan perikanan mencapai 1,2 juta ton. 800.000 ton berupa rumput laut. Sisanya 400.000 ton adalah ikan dan udang. Dari 400.000 ton ini, 190 ton untuk memenuhi konsumsi lokal. Sisanya, dikirim antar pulau, dan diekspor.

Kepala dinas meyakini, jumlah produksi ikan dan udang ini akan terus meningkat. Baik yang berupa hasil tangkap maupun budidaya. Sumbernya, saat ini PPN Teluk Awang telah beroperasi. Kapal-kapal perikanan tangkap yang dulunya bongkar di luar NTB, secara otomatis akan bongkar di Telung Awang.

Baca juga:  Hj. Niken Promosi Songket di Darwin

Fasilitas dan sarana prasarana pendukung yang memadai tengah diupayakan dipenuhi oleh pemerintah. “Kapal-kapal tangkap ikan berkapasitas besar, dulunya masuk Banyuwangi dan Benoa, sudah bisa masuk NTB. Setelah adanya Teluk Awang,” jelas L. Hamdi.

Disisi lain, kantong pemerintah pusat juga berhasil digembosi dengan mengucurkan bantuan peralatan sarana dan prasarana tangkap perikanan berupa kapal. Tahun ini sebanyak 20 unit NTB diberikan. Dari sisi budidaya, NTB juga terus mengembangkan udang vannamei. Dengan teknologi terbaru, pengembangan udang vannamei dapat dilakukan di pekarangan-pekarangan menggunakan media bak.

Rumput laut juga demikian. Pemerintah telah menggandeng investor untuk memanfaatkan ruang laut NTB. Selain itu, untuk budidaya mutiara. Dinas Kelautan dan Perikanan telah membuat kluster. Pembenihan dilakukan oleh pemerintah, pembesaran dilakukan oleh masyarakat dan penyuntikan serta produksi dilakukan oleh investor.

“Sehingga proses produksi tidak lagi lambat. Karena masing-masing sudah ada klusternya. Produksi mutiara dengan cara ini juga dapat ditingkatkan,” jelas L. Hamdi. Demikian juga produksi garam, juga dikembangkan dengan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. (bul)