APTI Prediksi Petani Tembakau Merugi hingga Rp420 Miliar

Petani Tembakau (Ilustrasi) (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Provinsi NTB khawatir, musim tanam tembakau virginia tahun 2019 ini akan menjadi catatan kelam bagi petani tembakau di Lombok. Proyeksi didasarkan pada makin berkurangnya kuota pembelian oleh perusahaan. Bahkan sama sekali tidak membeli di tengah tingginya animo petani menanam emas hijau ini.

Selama tiga kali musim tanam berturut-turut, tahun 2015-2017,  usaha tani tembakau virginia di Lombok, NTB kurang menguntungkan karena banyak hujan. Lalu pada musim tanam 2018, kata Ketua APTI NTB, Sahminuddin, iklim cukup bersahabat, sehingga produksi dan mutu tembakau virginia di Lombok sangat baik.

“Tahun 2018, para petani menikmati harga sangat wajar. Dan total produksi berhasil terpenuhi kurang lebih 36.000 ton tahun,” ujarnya.

Menjadi kebiasaan para petani, bila tahun sebelumnya harga komoditi pertanian perkebunan membaik, maka tahun ini dipastikan animo menanamnya akan jauh lebih tinggi. Hal ini berlaku hampir di semua komoditas pertanian perkebunan, tanpa terkecuali petani tembakau virginia di Lombok.

Dengan harga wajar yang diterima petani tahun 2018 lalu, maka APTI NTB tahun ini memperkirakan luas tanam akan bertambah 10% hingga 15 % dari. Dengan penambahan luas tanam ini, berarti produksi akan meningkat menjadi 39.600 ton sampai dengan 41.400 ton. Sementara, di satu sisi, musim tanam tahun 2019 ini, permintaan tembakau virginia Lombok akan menurun, paling tidak 12,5 % dari 2018. Hal ini terkonfirmasi dari pengurangan kuota pembelian yang dilakukan oleh perusahaan.

Keterangan Sahminuddin, beberapa perusahaan mitra petani tembakau misalnya, Djarum, tahun 2018 membeli 6.000 ton, tahun 2019 dikurangi menjadi 5.000 ton. Lalu Bentoel tahun 2018 membeli hingga 13.000 ton, tahun ini akan membeli hanya 8.000 ton. Kemudian PT. Sadhana, hanya 1.000 ton. Lainnya, banyak diantara perusahaan yang diketahui tak membeli tembakau tahun ini.

Mengacu pada uraian di atas, pada musim tanam 2019 ini, akan terjadi kelebihan produksi dari permintaan antara 8.100 – 9.900 ton tembakau virginia. Jika diasumsikan harga rata-rata Rp42.500/Kg, maka hitung-hitungan APTI NTB, kerugian petani total akan mencapai Rp344 miliar hingga  Rp420,75 miliar.

Melihat penawaran lebih besar dari permintaan, maka boleh jadi harga tembakau virginia tahun 2019 ini lebih rendah dari tahun kemarin. Ini akan membuat petani kurang untung, bahkan akan merugi. Seperti tahun 2000-an.

Rekomendasinya, perlu ada langkah awal pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak yang muncul pada musim tanam tahun 2019 ini. Bila tidak, menurut Sahminuddin, sejarah memungkinkan akan terulang kembali. Demo para petani tembakau virginia Lombok, terutama yang tidak terserap produksinya, seperti yang terjadi pada tahun 2.000, dan 2001.

“Bisa dicarikan solusi, apalagi puncak produksi saat pelantikan presiden pada Oktober, berarti akan terulang kembali demo petani tahun 2001. Sekarang petani sudah mulai banyak nanem, petani ndak tau itu. Ini bisa mengakibatkan dampak yang tidak kecil. Pak Gubernur kan ndak tau langkah soal ini,” demikian Sahminuddin.

Lebih jauh dipaparkan, penerimaan petani oleh perusahaan dalam kemitraan agak ketat (terjadi pengurangan petani), petani yang diterima pun dikurangi jatah produksinya. Karena waktu menanamnya serempak, dengan sendirinya saat berproduksinya bersamaan.

Nantinya akan terjadi kecemburuan pemasaran. Di satu sisi yaitu petani mitra lancar memasarkan produknya dengan harga terjamin, tetapi sisi lain, bagi petani yang tidak bermitra/ swadaya menurut Sahminuddin akan kebingungan menjual tembakaunya, sekalipun bisa terjual namun dengan harga yang ditentukan perusahaan. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan lebih dini bersikap. (bul)