Daging Impor Masuk, Pemotongan di RPH Berkurang

Aktivitas pemotongan di RPH Banyumulek, Lombok Barat. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Aktivitas pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH) mengalami penurunan. Diperkirakan setelah maraknya peredaran daging beku yang didatangkan dari luar negeri. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani.  Meski bulan puasa, menurut kepala dinas, tingkat konsumsi masyarakat terhadap daging lokal tak mengalami perubahan kenaikan yang signifikan.

“Setelah adanya daging beku masuk-masuk pasar tradisional,” kata Hj. Budi di ruang kerjanya, Selasa, 28 Mei 2019 kemarin. Seperti diketahui, akhir-akhir ini marak ditemukan daging beku dijual bebas di pasaran. Tak hanya daging, usus (jeroan) juga marak dijual.

Hal ini diakui para pedagang di pasar tradisional di Kota Mataram. Yang mengkhawatirkan, penjualan daging beku tidak dilakukan sesuai standar. Daging beku seharusnya dijual dalam keadaan beku. Dan disimpan di tempat higienis (cool box) dengan suhu 25°. Para pedagang mengabaikan itu. Sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan pencemaran bakteri yang dapat mengganggu kesehatan yang mengkonsumsinya.

Selain risiko kesehatan, masuknya daging impor juga dilematis bagi petani peternak. Nilai tular (pendapatannya) berpotensi berkurang. “Peternak jadi kasian juga. Jumlah pemotongan berkurang,” ujarnya. Dipaparkan kepala dinas, tahun 2017 lalu, jumlah hewan potong 67.456 ekor.

Lalu pada 2018, naik menjadi 70.504 ekor. Januari sampai April 2019 ini, jumlah yang potong tercatat sebanyak 13.249 ekor. Sementara itu, jumlah kuota potong yang direkomendasikan tahun 2019 ini sebanyak 35.000 ekor. Pemprov NTB telah mempersilahkan kepada kabupaten/kota untuk memanfaatkan kuota potong yang telah ditetapkan.

Berdasarkan informasi yang diterimanya dari kabupaten, kuota tersebut belum banyak dimanfaatkan lantaran masih adanya produksi. Selain itu, penurunan jumlah potong, dipengaruhi oleh standar hewan layak potong belum memnuhi ketentuan yang diatur dalam Pergub. Minimal berat 300 Kg hidup.

Kata kepala dinas, kesempatan juga melakukan perbaikan genetik. “Sapi Sumbawa kecil-kecil, karena perkawinan sedarah. Ini kesempatan kita melakukan pebaikan dengan kawin silang agar bobotnya turunannya lebih besar,” demikian kepala dinas. (bul)