Tagihan Piutang PT GNE Masih Minim

Syamsul Hadi (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Total piutang mengendap PT. Gerbang NTB Emas (GNE) mencapai Rp6,6 miliar. Namun jumlah yang tertagih masih minim, berkisar pada angka ratusan juta rupiah.

Salah satu penunggak yang melunasi adalah PDI Perjuangan NTB dan sejumlah pengusaha lain. ‘’Kalau total yang masuk dengan potensi bayar ada sekitar Rp500 juta-an,’’ sebut Direktur PT. GNE, Syamsul Hadi kepada Suara NTB akhir pekan kemarin.

Sejak menjabat sebagai direktur beberapa pekan lalu, ia langsung memimpin rapat dan membahas percepatan penyelesaian piutang mengendap, berupa pembayaran material paving block dan bahan bangunan lainnya.

Karena nilai bayar masih minim, sedang diupayakan untuk dimaksimalkan. Penunggak yang menanggung piutang, diinventarisir dan didatangi satu per satu. Bahkan ada yang sudah diajukan panggilan untuk klarifikasi. ‘’Sudah ada komitmen mereka untuk mengganti,’’ ujarnya.

Ke depan, upaya ini akan terus digenjot, sehingga target tembus pembayaran hingga miliaran dapat tercapai.

Syamsul Hadi menegaskan komitmennya menyelesaikan masalah tunggakan tersebut. Piutang yang terjadi sejak 2015 – 2017, tidak boleh terus mengendap.  ‘’Karena bagaimana pun juga pertanggungjawaban keuangan kami ini juga kepada publik, karena ada penyertaan modal,’’ tegasnya.

Tim khusus dibentuk untuk menyelesaikan tagihan tersebut, menelusuri dari perusahaan hingga ke desa desa. Karena ada catatan dua kepala desa turut tercatat sebagai penunggak. ‘’Ada memang beberapa orang sedang progres pembayaran. Saya minta diurus, saya minta tim penagihan untuk turun,’’ tegasnya.

Rujukan penyelesaian itu tetap dikoordinasikan dengan Inspektorat Provinsi NTB, karena sebelumnya sudah ada yang menjadi temuan mencapai Rp2,6 miliar. Temuan berdasarkan hasil audit investigasi Inspektorat.

Pola penyelesaian yang digunakan, dengan memberi mandat kepada tim kuasa hukum untuk melayangkan panggilan kepada pihak-pihak terkait tersebut. “Jadi setiap hari sudah ada panggilan panggilan dari legal kami,” ungkapnya.

Syamsul mengaku, sempat menganggap tagihan piutang macet ini begitu sulit, akibat kondisi keuangan para penunggak. Namun setelah diklarifikasi, ternyata banyak diantaranya adalah pengusaha property. ‘’Ini artinya, harusnya bisa dilunasi,’’ sesalnya.

Memang langkah pada periode sebelumnya belum maksimal membuahkan hasil. Ke depan, ia menegaskan tidak akan ada kompromi.  (ars)