Kemendag Gelontorkan 122 Ton Bawang Putih Impor ke NTB

Ilustrasi Bawang Putih (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Perdagangan mengamini permintaan NTB. Sebanyak 122 ton bawang putih impor disetujui masuk NTB. Dimana 50 ton di Pulau Sumbawa dan 72 ton ke Pulau Lombok.

“72 ton ini sudah masuk 3 hari yang lalu. Dan 50 ton di Sumbawa, menyusul datang,” kata Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si.

Permintaan kepada pemerintah pusat ini, mengingat, beberapa waktu terakhir harga bawang putih melambung. Akibat limitnya ketersediaan stok. Baik bawang putih lokal, maupun bawang impor. Sebelum puasa, staf ahli dari Kementerian Perdagangan melakukan kunjungan lapangan ke pasar-pasar tradisional yang ada di Kota Mataram.

Saat itu, stok bawang putih di pasaran dilihat berkurang. Dan harga cukup tinggi, di atas Rp60.000/Kg. Karena itulah, Kementerian Perdagangan mengalokasikan distribusi bawang putih melalui pengusaha untuk NTB. “Harapannya, masuknya bawang putih ini akan memenuhi kebutuhan masyarakat hingga idul fitri,” jelas kepala Hj. Selly usai mengikuti sidak pasar bersama Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

Karena masuknya bawang putih ini, hasil pemantauan harga di pasaran, harga bawang putih telah berangsur-angsur turun menjadi Rp40.000/Kg. NTB terpaksa harus tebal muka meminta Kemendag memfasilitasi masuknya bawang putih luar ke NTB. Meskipun Kemendag mempertimbangkannya karena alasan NTB adalah sentra produksi bawang putih.

Kepala dinas juga menyinggung soal daging oplosan. Hasil kunjungan lapangan kemarin ke salah satu distributor daging di Mataram, dijumpai manajemen pengelolaan daging beku dilakukan cukup baik. Daging-daging beku itulah yang dijual untuk memenuhi kebutuhan rumah makan, dan grosiran di NTB.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

Pengoplosan ternyata dilakukan oleh oknum-oknum pedagang di pasar tradisional. Karena terbatasnya alat potong daging beku yang dimilikinya. “Daging beku ini tidak boleh cair.  Bahksan sampai di masak, langsung di masukkan dalam keadaan beku. Nah, pedagang pasar yang mencairkannya agar bisa di potong dengan pisaunya. Tetapi berisiko kalau sudah di cairkan. Bisa membawa bakteri,” ujarnya.

Karena itu, rekomendasinya, pedagang harus menjual daging beku dalam keadaan beku. Konsekuensinya harus di sediakan box pendingin. Distributorlah yang diminta memfasilitasi para pedagang di pasar tradisional.

“Dan distributornya sudah siap memfasilitasi box pendingin bagi para pelanggannya di pasaran,” demikian Hj. Selly. (bul)