BI Bahas Tantangan Ekonomi NTB dengan Gubernur

Achris Sarwani (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Achris Sarwani  dan Dr. H. Zulkieflimansyah, Gubernur NTB, Selasa, 7 Mei 2019,  secara bersama-sama menjadi pembicara dalam forum bertajuk Ngaji Bareng Pak Gubernur, tentang perekonomian NTB terkini, ke depan, dan tantangannya.

Acara kali ini bertempat di Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB dikemas dengan suasana santai namun tetap penuh makna, melibatkan kurang lebih 35 orang yang berasal dari seluruh OPD, BPD NTB Syariah dan BPS Provinsi NTB.

Achris Sarwani, mengawali diskusi dengan menampilkan kondisi ekonomi global dan nasional. “Perbaikan ekonomi global lebih rendah dari perkiraan awal,’’ ungkap Achris Sarwani. WEO memperkirakan PDB Dunia pada tahun 2019 sebesar 3,5%, namun pada April 2019 perkiraan  diturunkan menjadi 3,3%. “Sedangkan pertumbuhan ekonomi  nasional masih di kisaran 5%”, tambah Achris Sarwani.

Baca juga:  Gubernur Siap Jadikan NTB sebagai Destinasi Investasi Terbaik

Pada triwulan I 2019, Provinsi NTB jika dibandingkan dengan daerah lainnya di regional Bali Nusra, mencatat pertumbuhan paling rendah yaitu 2,12% (yoy). Sedangkan Bali dan NTT masing-masing sebesar 5,94% (yoy) dan 5,09% (yoy).

 Jika dibandingkan dengan Sulawesi Tengah yang tumbuh 6,77% (yoy), yang juga merupakan provinsi terdampak gempa, perekonomian NTB masih tumbuh lebih rendah pada awal tahun ini. Memang, gempa bumi yang melanda Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa membawa pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sejak triwulan III 2018 sehingga pada triwulan tersebut ekonomi Provinsi NTB mengalami kontraksi (menurun).

Kemudian penurunan kinerja ekspor konsentrat tembaga juga sangat mempengaruhi perekonomian pascagempa. Provinsi Sulteng, meski menjadi provinsi yang juga terdampak gempa memiliki pertumbuhan ekonomi yang masih cukup kuat pada triwulan I 2019 sebesar 6,77% (yoy).

Hal ini karena kinerja ekonomi Provinsi Sulteng ditopang oleh daerah di luar wilayah terdampak gempa. Seperti ekspor LNG dan Gas di Luwuk, industri pengolahan nikel di Kabupaten Banggai dan perusahaan nikel serta baja di Kabupaten Morowali.

Baca juga:  Di NTB, Bulog akan Bangun Pusat Industri Beras Modern

Gubernur menjelaskan, salah satu solusi untuk meningkatkan perekonomian Provinsi NTB adalah industrialisasi. “Industrialisasi harus segera hadir di Provinsi NTB,” tegas Zulkieflimansyah. Pada akhir sesi, Achris Sarwani menyampaikan rekomendasi jangka pandek antara lain dengan meningkatkan koordinasi dan peran TPID dalam mengantisipasi periode perayaan HBKN. Menjaga ketersediaan bahan bangunan dan tenaga kerja, akselerasi pembangunan huntap, integrasi paket wisata dengan Bali dan melanjutkan akselerasi belanja derah.

Sedangkan rekomendasi jangka panjang antara lain melalui penguatan SDM untuk meningkatkan produktivitas, peningkatan daya saing ekspor non tambang, hilirisasi industri pengolahan sumber daya alam dan industrialisasi pariwisata. (bul)