Menurun, Angka Pengangguran di NTB

Ilustrasi (Pekerja)/pexels

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Dalam tiga tahun terakhir, jumlah pengangguran di NTB trennya mengalami penurunan. Berdasarkan data Februari 2017, angka pengangguran di daerah ini sebesar 97,22 persen. Menurun tahun 2018 menjadi 83,21 persen dan menurun lagi menjadi 81,29 pada periode Februari 2019.

Demikian diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Suntono, Senin (6/5) kemarin.

Ketika angka pengangguran menurun, jumlah angkatan kerja mengalami peningkatan. Tercatat pada Februari 2019  jumlah angkatan kerja sebanyak 2.489.388 orang, meningkat 30.367 orang dibanding Februari 2018. Penduduk yang bekerja pada Februari 2019 sebanyak 2.408.095 orang bertambah 32.284 orang dibanding keadaan setahun yang lalu.

Kemudian Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada Februari 2019 tercatat sebesar 69,62 persen, masih lebih kecil dibandingkan TPAK tahun lalu sebesar 69,83. Hal ini menunjukkan perlu terus digalakkannya program penciptaan lapangan kerja. Penurunan TPAK disebabkan kenaikan penduduk yang tergolong bukan angkatan kerja khususnya penduduk yang bersekolah dan melakukan kegiatan lainnya. Kenaikan ini lebih cepat dibandingkan kenaikan penduduk yang tergolong angkatan kerja.

Selanjutnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja. Berbagai kebijakan pemerintah terkait penciptaan lapangan kerja tampaknya cukup berhasil menekan tingkat pengangguran. Hal ini ditunjukkan oleh TPT yang bergerak turun. TPT pada Februari 2018 sebesar 3,38 persen turun menjadi 3,27 persen pada Februari 2019.

Suntono menambahkan, dilihat dari tingkat pendidikan pada Februari 2019, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sudah tidak menjadi yang tertinggi di antara tingkat pendidikan lain. Pengangguran lulusan SMK pada Februari 2019 sebesar 4,33 persen. TPT tertinggi terdapat pada SMU (5,75 persen).

TPT tertinggi berikutnya terdapat pada tingkat universitas atau perguruan tinggi (5,45 persen). Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja tidak terserap terutama pada tingkat pendidikan SMA dan  universitas. Penduduk yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja, dapat dilihat dari TPT SD ke bawah paling kecil di antara semua tingkat pendidikan yaitu sebesar 1,56 persen. Apabila dibandingkan kondisi setahun yang lalu, penurunan TPT terjadi pada semua tingkat pendidikan kecuali pada SMU.

Kemudian berdasarkan tren lapangan pekerjaan selama Februari 2018-Februari 2019. Lapangan usaha yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja terutama pada Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (1,21 persen poin), Jasa Pendidikan (1,00 persen) dan Industri Pengolahan (0,69 persen poin). Sedangkan lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan utamanya pada Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (2,41 persen poin); serta Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor (0,87 persen poin).

Penyerapan tenaga kerja hingga Februari 2019 masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah sebanyak 1.043.227 orang (43,32 persen), SMA sebanyak 463.551 orang (19,25 persen). SMP sebanyak 354.700 orang (14,73 persen), dan SMK sebanyak 149.951 orang (6,23 persen).

Sementara itu, penduduk bekerja berpendidikan tinggi (sarjana) ada sebanyak 396.666 orang (16,47 persen) mencakup 59.547 orang berpendidikan Diploma I/II/III dan 337.119 orang berpendidikan SI. (bul)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.