Waspadai Daging Oplosan

Ilustrasi Daging Sapi (Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Daging oplosan ditemukan dijual bebas di pasar-pasar tradsional. Ini menjadi risiko bagi konsumen dan harus diwaspadai. Satgas Pangan tengah menanganinya.

Demikian disampaikan, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M. Si. Ia mengemukakan, hasil temuan timnya di pasar-pasar besar di Kota Mataram. Misalnya di Pasar Induk Mandalika di Sweta, di Pasar Kebon Roek, Ampenan. Daging oplosan ini ditemukan, setelah adanya laporan temuan daging oplosan di Pasar Labuapi, Lombok Barat.

Modusnya, daging beku dioplos dengan daging lokal segar. ‘’Ini ndak boleh,’’ kata Selly.

Daging beku di jual harga Rp80.000/Kg di pasaran. Di distributor, harga tebusnya bisa Rp60.000 sampai Rp70.000/Kg. Jika dioplos dengan daging lokal, kemudian dijual dengan harga daging lokal, lebih dari Rp100 ribu, untung besar pedagang itu.

“Ini ulah nakal oknum pedagang. Makanya Satgas Pangan kita minta tindak saja,’’ tegasnya.

Daging beku, tidak diperbolehkan dijual dicampur dengan daging lokal. Ia harus dijual dalam keadaan beku. Para pedagang juga harus memiliki cool box. Sementara temuan lapangan, sebelumnya juga pedagang di Pasar Kebon Roek menjual daging beku dalam keadaan telah didinginkan dan tidak lagi dalam keadaan beku.

‘’Ndak boleh, karena di sana ada bakteri kalau tidak dalam keaadan beku. Kita masakpun harus dalam keadan beku,’’ katanya.

Senin ini, Satgas Pangan akan turun. Pengoplosan daging ini tidak diperbolehkan karena dianggap kejahatan. Setelah ditelusuri, dari dua distributornya di Mataram, daging beku dipasok atas kerjasama dengan Bulog Jakarta.

Satgas Pangan akan terus menanganinya. Mengingat risiko penyakit yang akan ditimbulkan berupa penyakit cacing pita. Rekomendasinya, jika konsumen membeli daging beku karena harganya lebih murah, lebih baik membelinya di swalayan atau ritel-ritel modern yang sudah dijamin higienitasnya.

‘’Yang dijual di pasar ini takutnya kalau beli oleh tukang bakso. Risikonya ke mana-mana,’’ katanya mengingatkan. (bul)