Soal Ancaman Hengkangnya PT SMS, Ini Respon Gubernur NTB

Zulkieflimansyah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pabrik gula di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu terancam tutup. Pasalnya, PT. Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang memiliki pabrik gula mengancam akan hengkang karena kurangnya ketersediaan bahan baku tebu.

Menanggapi hal itu, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc menyatakan akan berusaha membantu agar pabrik gula tersebut tetap bertahan. Ia meminta perusahaan memperkuat kemitraan dengan para petani.

Selain itu, gubernur juga meminta perusahaan jangan terlalu lama membayar tebu petani. Karena selama ini perusahaan menggunakan pihak ketiga membeli tebu dari petani.

‘’Kemarin itu mis manajemen. Sehingga pihak ketiga tak langsung membayar (tebu)  ke petani. Nah, petani ketika bayaran lama, harga rendah. Ada alternatif jagung yang lebih baik, ya beralih (menanam jagung),’’ kata gubernur dikonfirmasi akhir pekan kemarin di Mataram.

Gubernur mengatakan, apabila perusahaan tetap mau survive, maka petani tebu harus dibina. PT. SMS diminta memperkuat kemitraan dengan para petani. Yang paling penting kata Dr.Zul, pembayaran tebu dari perusahaan juga harus cepat.

‘’Karena petani nggak bisa nunggu lama-lama. Mereka utang kiri kanan. Karena mereka harus makan,’’ katanya.

Dr. Zul ini mengatakan, sangat wajar apabila petani tebu beralih menaman jagung. Karena hasil menanam jagung lebih cepat didapatkan daripada menanam tebu. ‘’Lebih menguntungkan tanam jagung karena cepat dapat duitnya. Sekarang bagaimana tantangan Pemda dan pengusaha tebu. Sayang pabriknya sudah ada. Saya tetap pada posisi yang akan membantu,’’ ujarnya.

Baca juga:  Langkah Awal Industrialisasi, Galeri Rumah Pajang Ekowisata Desa Batu Dulang Diresmikan

Gubernur menambahkan meng-entertain investor memang tidak gampang. Sehingga mereka diberikan kemudahan-kemudahan oleh pemerintah. Salah satunya dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengimpor gula kasar yang kemudian diolah di pabrik gula PT. SMS di Dompu.

Investor diberikan mengimpor gula yang masih kasar tetapi dengan syarat membangun pabrik gula di dalam negeri seperti di Dompu. ‘’Karena menurut saya pengusaha ini komit, bagus. Dia harus menanam tebu,’’ tandas Dr. Zul.

Sebelumnya, PT. SMS mengancam akan memindahkan pabriknya ke daerah lain karena terbatasnya pasokan bahan baku tebu. Ancaman ini menyusul petani-petani di daerah setempat lebih memilih menanam jagung ketimbang tebu. Walhasil, untuk operasional pabrik, harus mendatangkan bahan baku kembang gula dari luar negeri.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M. Si mengkonfirmasi, bahwa PT. SMS punya skenario hingga 2021 mendatang. Ketika bahan baku tidak boleh lagi didatangkan dari luar negeri. Selama skenarionya ini berjalan, pemerintah mendukung agar kapasitas produksi pabrik 5.000 ton/hari bisa terpenuhi.

Baca juga:  Kunjungi Northern Territory, Gubernur NTB Siapkan Kebijakan untuk Menghadapi Bencana

Pemerintah mengalokasikan Bansos untuk memberikan subsidi kepada petani tebu. Subsidi dalam bentuk bibit penyediaan bibit. Tahun ini alokasi anggaran dari Kementerian Pertanian untuk tanaman tebu  seluas 1.500 hektar. Tahun 2018 lalu Bansos dalam bentuk subsidi penuh penyediaan bibit dan lainnya, oleh pemerintah diberikan untuk seluas 3.000 hektar. Namun yang dapat dieksekusi di bawah 1.000 hektar.

SMS diberikan Hak Guna Usaha (HGU) untuk melakukan penanaman tebu seluas 5.700 hektar. Idealnya, PT. SMS harus menyediakan 1.000 hektar untuk memenuhi kebutuhan pabrik. Dari HGU itupun, PT. SMS tak mengeksekusi seluruhnya. Akibatnya, perusahaan kekurangan bahan baku tebu.

Pabrik gula PT. SMS dirancang berkapasitas 5.000 tons cane/day (TCD) dan dapat dikembangkan menjadi 10.000 TCD. Pelaksanaan pembangunan sudah dimulai sejak Maret 2014 dan beroperasi pada  2016. Pabrik ini dapat menyerap tenaga kerja untuk sektor inti sekitar 500 orang dan sektor penunjang bisa mencapai sekitar 3.000 orang. Nilai investasinya mencapai Rp1,3 triliun dan satu-satunya di Indonesia Timur. (nas)