Kebutuhan Garam NTB Masih Dipasok dari Surabaya

Lalu Hamdi (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB menyebutkan produksi garam di daerah ini sebesar 170 ribu ton pada 2018 lalu. Namun ironisnya, kebutuhan garam untuk konsumsi rumah tangga didatangkan dari Surabaya.

Kepala DKP NTB, Ir. Lalu Hamdi, M. Si., mengatakan garam yang diproduksi di NTB masih berupa garam kasar. Garam kasar produksi NTB dikirim ke Surabaya untuk diolah menjadi garam konsumsi. Ia menyebut, kebutuhan garam untuk konsumsi rumah tangga di NTB sebanyak 18 ribu ton setahun.

“Garam kasar kita kirim keluar daerah. Untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah kita datangkan dari luar. Diolah dulu di Surabaya, baru di datangkan lagi ke NTB,” ungkap Hamdi dikonfirmasi usai menghadiri Seminar NTB Zero Waste di Mataram, Rabu, 27 Maret 2019.

Sesuai visi dan misi Pemprov NTB lima tahun ke depan, kata Hamdi, menekankan tentang industrialisasi produk-produk unggulan daerah. Ia mengatakan DKP sedang menyusun masterplan dan roadmap tentang industri hasil perikanan dan kelautan NTB.

Baca juga:  Perkuat Ekspor Non Tambang, NTB Perkaya Hasil Perikanan Budidaya dengan Teripang dan Kepiting

“Nanti akan tergambar potensi dan peran masing-masing stakeholders mulai dari produksi bahan baku sampai pemasaran. Sehingga dalam indusrialisasi teritegrasi,” katanya.

Ia menyebutkan Bima merupakan daerah sentra garam nasional. Kemudian didukung Sumbawa, Lombok Timur dan Lombok Barat. Pada tahun 2018, produksi garam di NTB sebanyak 170 ribu ton. Tahun 2019, produksi garam NTB ditargetkan 180 ribu ton. Sementara kebutuhan garam untuk konsumsi  dalam daerah sekitar 18 ribu ton.

Hamdi mengatakan garam produksi NTB banyak yang dikirim keluar daerah, tetapi masih dalam bentuk garam kasar. Di luar daerah, garam NTB kemudian diolah dan kembali dikirim ke daerah ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. “Kita akan olah untuk memenuhi kebutuhan kita. Makanya kita olah di sini. Sedang disusun roadmapnya,” terang Hamdi.

Baca juga:  NTB Petakan Komoditi yang Siap Diindustrialisasi

Ia menjelaskan industri garam yang bergerak di NTB kebanyakan IKM. Seperti Lombok Timur dan Bima, sudah dapat memproduksi garam konsumsi. Tetapi kapasitas produksinya masih skala kecil, karena butuh peralatan seperti alat giling, alat campur dan iodisasi garam.

Hamdi mengatakan jika IKM yang ada diberdayakan, paling tidak 18 ribu ton kebutuhan garam konsumsi di NTB dapat dipenuhi oleh IKM-IKM yang ada. Selain itu, garam NTB juga ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan industri.

Namun, untuk memenuhi kebutuhan garam industri harus memenuhi persyaratan, kandungan NaCl di atas 90 persen. Sehingga membutuhkan teknologi dalam pengolahannya. (nas)