Transaksi Keuangan Wisatawan di Pulau Moyo Gunakan Mata Uang Asing

Kegiatan penukaran, dari uang lusuh/rusak ke uang baru sebagai bagian dari kegiatan utama kas keliling Ekspedisi Laskar Nusa di Pulau Moyo. (Suara NTB/bul)

Sumbawa (Suara NTB) – Minimnya akses keuangan menjadi kendala pembayaran tak sepenuhnya menggunakan mata uang RI (rupiah) di Pulau Moyo. Padahal, dalam Undang-Undang Mata Uang Nomor 7 Tahun 2009, jelas-jelas hal ini dilarang. Rupiah adalah simbol kedaulatan NKRI. Ketika rupiah tak digunakan sebagai alat untuk bertransaksi keuangan di dalam negeri, sama artinya hal itu merongrong kedaulatan NKRI.

Menggunakan alat pembayaran dengan mata uang asing ini disampaikan Kepala Desa Labuhan Aji, Kecamatan Badas, Kabupaten Sumbawa, Suhardi. Pulau Moyo terletak di bagian utara Pulau Sumbawa. Potensi pariwisata yang tersimpan diantaranya air terjun mata jitu yang tersohor karena kunjungan mendiang Lady Diana,  putri Inggris semasa hidup. Selain Lady Diana, selebriti dunia lainnya seperti MC. Jagger, Maria Sharavofa, David Beckham. Jangan ditanya selebriti nasional. Pulau Moyo juga dikenal memiliki kekayaan pantai yang indah untuk wisata snorkling.

Dengan potensinya yang memikat itulah, Pulau Moyo menjadi destinasi wisatawan yang justru sangat dikenal di berbagai penjuru negeri. Dalam setahun, kepala desa menyebut sebanyak 1.000 wisatawan asing ke Pulau Moyo. Kerena itulah, masyarakat memanfaatkan peluang tersebut untuk mengembangkan jasa-jasa terkait sektor pariwisata. transportasi (ojek), penginapan, dan lainnya.

Untuk beragam pembayaran jasa-jasa wisata itu, tak jarang kata Suhardi, wisatawan lebih memilih pembayaran menggunakan mata uang asing yang dibawanya. “Nilai pembayaran disesuaikan dengan nilai penukaran rupiah,” jelas Suhardi. Masyarakat setempat juga tak masalah, pembayaran jasanya menggunakan mata uang di luar rupiah. Sebab kadang-kadang mereka mendapatkan nilai pembayaran lebih, wisatawan enggan diberikan kembalian.

Uang-uang yang didapat oleh penyedia jasa ini, ketika terkumpul barulah ditukarkan ke money changer di Sumbawa. Karena itulah, hadirnya tim Ekspedisi Laskar Nusa 2019, salah satu misinya adalah kas keliling (penukaran) sangat antusias disambut. Meksipun penukaran uang yang dilayani adalah penukaran uang lusuh/sobek dengan uang baru.

Deputy Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB Bidang Pembayaran, Ocky Ganesia, mengatakan, pada prinsipnya Undang-Undang mata uang harus dipatuhi oleh setiap WNI, termasuk pendatang asing yang berkunjung ke negeri ini. Beberapa kegiatan yang dilakukan Bank Indonesia terkait hal ini, seperti yang disebut Ocky diantaranya sosialiasi ke kantong-kantong wisatawan TKI.

Sosialisasi dilakukan sekaligus mengimbau kepada masyarakat yang melakukan jual beli valas dapat mengurus izin KUPVA. “Tidak sulit ngurus izinnya di Bank Indonesia dan tidak berbiaya,” jelas Ocky. Bank Indonesia juga mengedukasi kepada pemilik-pemilik usaha hotel dan restoran untuk mencantumkan harga barang/jasa yang dijual menggunakan nilai rupiah. “Kamar hotel, penginapan jangan pakai mata uang asing,” imbuhnya.

pada praktik pembayaran jasa wisatawan di Pulau Moyo, Bank Indonesia juga kata Ocky sangat mengharapkan wisatawan melakukan penukaran sebelum berkunjung ke suatu wilayah yang tidak tersedia fasilitas/tempat penukaran valas. “Kita akan dorong pengusaha mengurus izin money changer. Kita akan tindaklanjuti,” demikian Ocky. (bul)