Penyelundupan Benih Lobster Senilai Rp1,5 Miliar Lebih Berhasil Digagalkan

Suprayogi, Kepala BKIPM Mataram saat melakukan pelepasan benih lobster yang berhasil digagalkan penyelundupannya. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Tim gabungan di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat  yang terdiri dari Balai KIPM Mataram, Gabungan Lanal Mataram, Polsek KP3 Lembar, berhasil menggagalkan rencana penyelundupan benih lobter. Nilainya mencapai Rp1,5 miliaran dapat diselamatkan.

Rencananya, benih – benih lobster ini akan dikirim dengan tujuan Bali oleh pelakunya. Diketahui, kronologis penggagalan penyelundupan benih lobster ini berawal dari dari temuan ransel berisi kantong kemasan benih lobster dari orang tak dikenal.

Dalam keterangan Kepala Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Mataram, Suprayogi,  Rabu malam 27 Februari 2019, di Pelabuhan Lembar, seseorang dengan membawa ransel diingatkan oleh petugas untuk membeli tiket penyeberangan.

Tanpa alasan yang jelas, yang bersangkutan tiba-tiba saja melepas ransel yang dibawanya, lalu kabur. Tidak ada kecurigaan petugas atas ransel tersebut. Setelah dicek, di dalamya di temukan 21 kantong benih lobster siap kirim.

Tak berselang lama, petugas kemudian menemukan ada satu ransel lainnya yang ditinggal pemilik di dalam toilet. Ransel tersebut berisi 20 kantong benih lobster jenis mutiara (1 kantong berisi 250 ekor). Total, 41 kantong ditemukan berisi 10.250 ekor benih lobster.

“Pelakunya tidak tertangkap. Satunya tiba-tiba lari ke hutan dan lepas ransel. Satu ransel ndak tau siapa yang lepas di dalam toilet. Kemungkinan akan diekspor,” jelas Suprayogi kepada Suara NTB di Mataram, Jumat, 1 Maret 2019 kemarin.

Barang bukti selanjutnya telah dilepas kembali di perairan Kadinan, Lombok Barat pada Kamis, 28 Februari 2019. Menurut perkiraannya, benih-benih lobster yang digagalkan penyelundupannya tersebut berasal dari penangkapan di wilayah Lombok Timur dan Lombok Tengah (Teluk Awang).

Padahal, pemerintah secara tegas menyatakan, tidak membolehkan penangkapan, atau pengiriman dalam ukuran tertentu. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 56/Permen-KP/2016 Tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus SPP.), Kepiting (Scylla SPP.), Dan Rajungan (Portunus SPP.) Dari Wilayah Negara Republik Indonesia

Diatur, penangkapan dan/atau pengeluaran lobster hanya dapat dilakukan dengan ketentuan tidak dalam kondisi bertelur, ukuran panjang karapas di atas 8 (delapan) cm atau berat di atas 200 (dua ratus) gram per ekor.

Sementara kepiting, kondisi tidak bertelur dengan ukuran lebar karapas di atas 15 (lima belas) cm atau berat diatas 200 (dua ratus) gram per ekor. Dan rajungan, penangkapan dan/atau pengeluaran hanya dapat dilakukan dalam kondisi tidak bertelur dan ukuran lebar karapas di atas 10 (sepuluh) cm atau berat di atas 60 (enam puluh) gram per ekor.

Mengapa masih ditemukan penyelundupan benih lobster, dugaan kuat masih karena tingginya permintaan di luar negeri dan harganya yang masih menjanjikan. Karena itu, Suprayogi menekankan agar masyarakat tak mengambil risiko.

Penangkapan dan pengiriman lobster dapat dilakukan. Asalkan, memenuhi ketentuan ukuran dan bobotnya sesuai peraturan Menteri KKP.

“Karena pemerintah ingin menjaga kelestariannya. Jangan sampai dieksploitasi terus, kita kehabisan dan orang luar yang mengembangkannya, itu yang ingin pemerintah jaga,” demikian Suprayogi. (bul)