Adeksi akan Surati Presiden Soal Harga Tiket

Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pengurus Adeksi yang juga Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi mengaku Rakernas Adeksi sudah menghasilkan rekomendasi untuk dibawa ke pusat. Namun di sana tidak tercantum rekomendasi soal harga tiket yang dikeluhkan secara nasional. ‘’Iya itu tidak kita masukkan dalam rekomendasi. Tapi Adeksi akan bersurat secara resmi kepada presiden,’’ katanya kepada Suara NTB usai jalan sehat Adeksi di Mataram, Rabu, 27 Februari 2019 kemarin.

Tidak hanya bersurat kepada presiden, Adeksi juga akan menyurati beberapa Kementerian terkait untuk segera menyikapi harga tiket mahal yang menjadi keluhan secara nasional. ‘’Kita ingin pemerintah pusat cepat mencari solusi atas persoalan ini,’’ ucapnya. Harga tiket pesawat yang mahal ini, diakui Didi, sangat berpengaruh terhadap kunjungan tamu yang berkunjung ke daerah ini.

Baca juga:  Daging Beku Dijual Bebas, Produksi Daging Lokal Dikhawatirkan Terganggu

‘’Tiket mahal, animo masyarakat kurang, sehingga penerbangan juga berkurang,’’ ucapnya. ‘’Makanya ini pemerintah pusat harus cepat dan serius,’’ imbuhnya. Rakernas Adeksipun, kata orang nomor satu di DPRD Kota Mataram ini, merasakan dampak persoalan tiket ini. Didi menyebutkan, sebanyak 237 anggota Dewan kota peserta Adeksi batal dating ke Mataram. ‘’Mereka tidak kebagian tiket,’’ sesalnya.

Karena seperti diketahui, sejumlah maskapai memangkas frekuensi terbang dari dan ke berbagai daerah. Lombok termasuk salah satu yang terdampak pengurangan frekuensi terbang. Pengurangan frekuensi terbang ini, karena animo masyarakat bepergian menurun drastis sejak naiknya harga tiket. Mahalnya harga tiket ini juga diperparah dengan kebijakan maskapai yang memberlakukan bagasi berbayar.

Baca juga:  Wagub : Pembukaan Rute Perth – Lombok Dapat Respons Luar Biasa

Hal ini, sambung politisi Golkar ini, juga dirasakan oleh para pelaku usaha yang bergelut di bidang penyediaan oleh-oleh khas Lombok. ‘’Tadi ada ada teman anggota Dewan dari daerah lain cerita ke saya. Mereka kaalau ke Lombok biasanya bawa oleh-oleh gula aren sampai satu kardus. Tapi sekarang sejak bagasi harus bayar, jadi terpaksa belinya hanya dua buah,’’ terang Didi.

Peserta Adeksi berpikir dua kali untuk membeli banyak oleh-oleh dari Lombok. Karena biaya bagasi yang tidak bisa kompromi. (fit)