IWAPI Resah, Kain Tenun Bordiran dari Luar NTB Marak

Baiq Diyah Ratu Ganefi memperlihatkan kain tenun bordiran dari luar daerah yang marak masuk ke NTB (Suara NTB/bul)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi NTB merasa terusik. Kain tenun bordiran dari luar daerah marak dijual di NTB. Hal inipun telah diadukan ke Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah. Apalagi, NTB tengah menggalakkan pengunaan kain tenun lokal sebagai bagian dari pakaian dinas untuk perwujudan mempertahankan kearifan lokal.

Ketua IWAPI Provinsi NTB, Hj. Baiq. Diyah Ratu Ganefi menunjukkan selembar kain tenun bordiran dari luar NTB usai menemui Wakil Gubernur, Senin (25/2) kemarin. Kain tenun tersebut didapat dari salah satu koleganya sebagai bagian dari atribut organisasi. Kain bordiran motif tenun Mbojo sangat tipis. Kualitasnya sangat jauh dibandingkan kain tenun hasil kerja tangan-tangan penenun lokal.

Ratu Ganefi mengatakan, maraknya kain tenun bordiran dari luar NTB ini bisa menjadi petaka yang dapat menggerus eksistensi penenun-penenun lokal. Sebagai Ketua IWAPI NTB, sekaligus Ketua Asosiasi Pengusaha Eksportir Indonesia (Asephi) Provinsi NTB, ia mengatakan sangat miris. “Harganya murah, datangnya dari luar provinsi kita, dan kita menggunakan secara besar-besaran untuk seragam beberapa organisasi. Termasuk seragam organisasi yang dipimpin oleh ibu Wagub (BKOW),” kata Ratu Ganefi.

Setelah dilaporkan langsung Dr. Hj. Rohmi Djalillah seperti yang disampaikan Ratu Ganefi sebagai kesalahan terbesar di daerah untuk pembinaan UMKM, khususnya di bidang tenun. Bagaimana mungkin tenun lokal yang harganya ratusan ribu, ditenun dengan waktu yang tak singkat, belum terhitung lelahnya penenun, tiba-tiba digempur oleh kain tenun bordir dari luar yang harganya murah, dimana-mana digunakan oleh seluruh organisasi.

“Kami ingin menyampaikan kepada pemerintah daerah, seharusnya siapapun organisasi yang menggunakan kain tenun bordir ini harus di blacklist. Karena bertentangan dengan semangat daerah menumbuhkembangkan UMKMnya,” demikian anggota DPD RI ini ditemui di Mataram, Senin (25/2) kemarin.

Kain tenun bordiran dari luar dimaksud, harganya Rp150.000/pcs. Menang jauh dibandingkan harga kain tenun lokal yang harganya bisa mencapai di atas Rp500.000/pcs. Dan satu pcs dapat dibagi dua, kualitasnya jauh lebih bagus. Masuknya ke NTB sekitar 6 bulanan lalu. Dari sisi harga saja, sudah jadi ancaman dapat mematikan penenun lokal. Saran IWAPI, mengingat masuknya kain tenun bordiran ini tak terbendung dan dapat mematikan pengerajin lokal, bersama pemerintah daerah harus ada gerakan mempertahankan kearifan lokal. Dengan cara memanfaatkan hasil-hasil tenunan tradisional dari dalam daerah. (bul)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.