Pengembangan Industri Olahan Tumpang Tindih Antar OPD

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Andi Pramaria (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pengembangan industri olahan skala kecil di NTB  dinilai tumpang tindih antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Akibatnya, industri olahan tidak pernah berkembang dan maju. Padahal NTB kaya dengan potensi sumber daya alam juga komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan dan perikanan.

‘’Makanya Dinas Perindustrian tak bisa berkembang karena kewenangannya tumpang tindih,’’ kata Kepala Dinas Perindustrian (Disperin) NTB, Ir. Andi Pramaria, M. Si dikonfirmasi Suara NTB, kemarin.

Ia mencontohkan, selama ini sudah ada pengolahan hasil hutan seperti minyak kayu putih, wood pelet, kopi dan lainnya. Begitu juga di bidang kelautan dan perikanan, sudah ada pengolahan rumput laut menjadi sabun dan produk lainnya.

OPD hulu semestinya memastikan produksi bahan baku tetap kontinu. Sementara bagian pengolahan dilakukan OPD hilir. Termasuk juga mengenai pemasaran.

‘’Selama ini Dinas Perindustrian ngapaian? Nggak kerja apa-apa. Karena tumpang tindih itu. Pekerjaannya diambil. Seharusnya mereka memastikan ketersediaan bahan baku,’’ kata Andi.

Mantan Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) NTB ini mengakui bahwa peta jalan (roadmap) pengembangan industri di NTB belum ada. Saat ini pihaknya sedang menyusun roadmap tersebut bersama pihak terkait lainnya.

‘’Sedang disusun. Saya baru satu bulan di situ (jadi Kepala Dinas Perindustrian, Red),’’ tuturnya.

Terkait dengan program industrialisasi di NTB, Andi mengatakan saat ini sedang dilakukan pemetaan potensi dan lokasi yang dilakukan masing-masing OPD. Setelah melakukan identifikasi dan inventarisasi komoditas-komoditas daerah yang akan dikembangkan, barulah dirancang pengembangan industri olahan di NTB ke depannya.

Sejumlah komoditas unggulan daerah yang dapat diolah untuk meningkatkan nilai tambah seperti kelapa, kakao, jagung, cabai, bawang merah, rumput laut dan lainnya. Untuk kelapa, dapat diolah menjadi minyak murni. Selain itu, sabutnya dapat diolah menjadi busa. Sedangkan batoknya dibuat menjadi kerajinan.

Begitu juga kakao yang ada di Lombok Utara akan kembali dikembangkan. Pascagempa beberapa waktu lalu, kampung  cokelat yang ada di sana kena dampak. Selain kakao, di KLU juga penghasil kopi. Nantinya kopi akan diolah menjadi kopi siap saji dengan memperbaiki kemasannya.

Sementara untuk jagung, sudah dikembangkan menjadi jus, seperti di Dompu. Pengolahan jagung akan diarahkan untuk menjadi pakan ternak. Untuk mendukung peternakan unggas.

Pasalnya, selama ini, kata Andi para peternak unggas di NTB mengeluhkan harga pakan yang mahal. Sebagai daerah penghasil jagung, akan dikembangkan pabrik pakan skala kecil. Pemprov akan memberikan bantuan peralatan kepada masyarakat untuk mengolah jagung menjadi pakan ternak dengan kapasitas 200 kg per hari.

Untuk industri pakan skala besar, kata Andi, sudah ada investor yang berminat membangun pabrik. Tetapi masih dilakukan penjajakan. Pabrik pakan skala besar membutuhkan produksi yang kontinu.

‘’Saya jajaki untuk pabrik besar. Tapi produksinya harus kontinu. Pokoknya ada yang mau,’’ imbuhnya.

Komoditas ungggulan NTB rata-rata sudah ada industri pengolahan. Industri pengolahan skala kecil inilah yang nantinya akan dibuat holding. Supaya harga sama dan stoknya kontinu. (nas)