Ketika Pelaku Usaha Pariwisata Beralih Profesi

Husni, pelaku usaha pariwisata asal Lingkungan Karang Genteng, Kelurahan Pagutan, Mataram menunjukkan asesoris yang tak laku karena tak ada kunjungan wisatawan ke toko seninya, Jumat, 22 Februari 2019. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Lesunya pariwisata di NTB, khususnya Kota Mataram, membuat beberapa pelaku usahanya beralih profesi. Pedagang aksesoris yang dulu ramai dikunjungi wisatawan, kini memilih menjadi tukang parkir, pedagang nasi, es dan air.

Husni, pedagang aksesoris asal Lingkungan Karang Genteng, Kelurahan Pagesangan menuturkan, sepinya wisatawan berkunjung di Kota Mataram jelas berdampak. Apalagi bencana gempa bumi bulan Juli 2018 lalu. Derita mereka diperparah dengan kenaikan tiket pesawat dan pengenaan tarif bagasi oleh maskapai.

Tidak ada wisatawan domestik maupun mancanegara berkunjung. “Penurunan drastis. Tamu tidak ada yang beli,” kata Husni, Jumat, 22 Februari 2019. Lima puluh persen rekan seprofesinya beralih profesi. Mereka rata – rata menjadi pedagang nasi, tukang parkir, pedagang es dan pedagang asongan.

Baca juga:  Promosi di Australia, BPPD dan Dispar Bawa Materi Unggulan

Husni menambahkan, hasil jualannya menurun drastis. Satu pekan ini, tak ada satupun barang miliknya terjual. Untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, ia harus gali lubang tutup lubang alias berutang. “Iya, terpaksa ngutang di teman – teman,”cetusnya.

Husni

beserta rekannya mengharapkan pernak – pernik miliknya laku bila wisatawan datang berkunjung. Oleh karena itu, ia mengharapkan pemerintah daerah menggelar kegiatan skala nasional maupun internasional.

Bagi Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, I Made Swastika Negara mengatakan, lesunya pariwisata memiliki dampak luas. Tidak saja pengelola hotel. Tetapi, pelaku usaha pariwisata, restauran, dan lain sebagainya.

Okupansi hotel di Mataram menurun 10 hinga 20 persen. Di tahun 2017 kunjungan wisatawan mancanegara 19.225 dan wisatawan domestik 695.066. Sementara, tahun 2018 Wisman 18.225 dan wisatawan domestik 653.362. “Penurunan sekitar 10 – 20 persen,” sebut Made.

Baca juga:  Ironi Ikon Wisata Dunia, Gili Trawangan Tak Punya Toilet Representatif

Selain faktor mahalnya tiket pesawat, keengganan wisatawan datang ke Mataram karena persepsi bahwa di masyarakat bahwa Lombok belum aman. Image ini kata Made, perlu diluruskan. Promosi di sejumlah daerah akan coba dilakukan untuk mendongkrak tingkat kunjungan.

“Yang bisa kita lakukan dengan promosi,” tambahnya.

Mantan Staf Ahli Setda Kota Mataram menegaskan, kebijakan menurunkan tarif tiket pesawat bukan kewenangan pemerintah daerah. Kondisi ini dilaporkan ke pemerintah pusat, agar mengambil kebijakan. (cem)