Wisatawan Sepi, Petani Horti Ikut Lakukan Efisiensi

Japri sedang memanen salah satu jenis sayuran komoditas hortikultura untuk dikirim ke penyalur. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Petani hortikultura juga kehilangan hampir separuh pangsa pasar, setelah angka kunjungan wisatawan melorot. Faktor gempa, ditambah kenaikan harga tiket pesawat disebut-sebut memberi andil terbesar atas pengaruh ini.

Japri adalah salah satu petani kota yang berprestasi hingga di level nasional. Ia memiliki lahan seluas 4 hektar di Kota Mataram dan luar Kota Mataram. Alih teknologi pertanian sepenuhnya diterapkan. Produksi hasil pertanian dan hortikulturanya berada di atas rata-rata capaian ideal.

Setidaknya, ada 17 jenis sayur dan buah. Sayur penyedap rasa, lalapan, hingga sayuran untuk sup yang ia kembangkan sejak 2003. Japri adalah petani profesional yang intens memasok kebutuhan sayur dan buah untuk hotel dan restoran di Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Utara.

Japri, salah satunya dari berbagai segmen yang paling merasakan dampak gempa dan mahalnya harga tiket pesawat. Suara NTB menjumpainya di lahan tempat tinggalnya di kawasan Udayana Mataram. Sederet di bagian utara Mataram Water Park (MWP). Ketika Suara NTB berkunjung pagi menjelang siang kemarin, masih terlihat aktivitas pengemasan dan pengantaran sayuran ke sejumlah penyalur yang menjadi mitranya. Japri telah mendapat sertifikat Prima 3.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

Sertifikat prima 3 ini diberikan oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB untuk lima jenis sayuran hasil pertaniannya. Sertifikasi prima ini adalah proses pemberian sertifikat sistem budidaya  produk yang dihasilkan setelah melalui pemeriksaan, pengujian, dan pengawasan serta memenuhi semua persyaratan untuk mendapatkan label produk Prima 1, Prima 2, dan Prima 3.

Tujuan dari pelaksanaan sertifikasi prima tersebut adalah memberikan jaminan mutu dan keamanan pangan, memberikan jaminan dan perlindungan masyarakat/konsumen, mempermudah penelusuran kembali dari kemungkinan  penyimpangan mutu dan keamanan produk dan meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk. “Sangat-sangat terasa dampaknya sekarang,” kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Mataram ini, Jumat, 22 Februari 2019 kemarin.

Japri adalah pemain lama yang menjadi pemasok kebutuhan hotel dan restoran. Ia tidak langsung bersentuhan dengan manajemen, melainkan melalui 10 penyalur yang menjadi mitranya di kota dan kabupaten di Pulau Lombok. Dampak yang dirasakannya misalnya pembayaran barang yang tertunda oleh penyalur. Lalu pengurangan permintaan hingga 40 persen dari biasanya.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

“Setelah gempa akhir tahun kemarin, sampai 95 persen permintaan hilang. Akhirnya, sayur-sayur yang biasanya saya kirim ke penyalur kami bagi-bagikan untuk saudara-saudara kita yang ada di Lombok Utara,” ujarnya. Untuk menyiasati keadaan ini, efisiensi juga dilakukan.

Misalnya, biasanya dalam sehari ia melibatkan 30 orang untuk seluruh proses kegiatan panen sayur hingga distribusi, jumlahnya dikurangi menjadi 15 orang. Atau dengan menghitung pengeluaran, biasanya sebulan sampai Rp50 juta ia harus keluarkan biaya operasional dan upah, sekarang hanya Rp15 juta sampai Rp20 juta.

Sebelumnya, ia juga berencana membuka lahan lebih dari 1 hektar di Lombok Utara untuk memenuhi pesanan, rencana itu diurungkan. Harapannya, ada kebijakan-kebijakan strategis pemerintah agar keadaan kembali normal. Yang paling diharapkan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika secepatnya progresif. “Sementara pengurangan permintaan dari penyalur, kami harus jual ke pasar,” demikian Japri. (bul)