Pariwisata Lesu, Pelaku Usaha Jangan Pesimis

Pasar Seni Sesela Gunungsari masih sepi pengunjung menyebabkan penghasilan perajin souvenir merosot. (Suara NTB/her)

Mataram (Suara NTB) – Menteri Pariwisata (Menpar) Arif Yahya, mengajak semua pelaku wisata di NTB dan Pulau Lombok pada khususnya untuk tetap menjaga optimisme menyikapi kondisi pariwisata yang saat ini tengah lesu. Menurutnya, kondisi sulit seperti sekarang ini pasti akan berlalu. Pemerintah pusat sendiri saat ini juga terus berupaya maksimal membantu memulihkan kondisi pariwisata NTB.

‘’Jadi jangan pesimis bahwa kita tidak bisa bangkit, itu message (pesan) utamanya saya,” ujar Menpar, Arif Yahya, usai menghadiri Dialog Kreatif Festival Pesona Bau Nyale, di arena Bazar Mandalika Kuta, Kamis, 21 Februari 2019 kemarin.

Sebenarnya, pascagempa pariwisata Lombok sudah mulai bangkit. Okupansi hotel pun sudah mulai merangkat naik hingga 40 persen. Namun saat sedang merangkat naik, tiba-tiba kembali ditimpa fenoma harga tiket pesawat yang tinggi. Hingga menyebabkan okupansi hotel di daerah ini kembali turun.

Artinya, turunnya kunjungan wisatawan di Pulau Lombok dan NTB pada umumnya bukan lagi karena dampak gempa. Tetapi persoalan fenomena harga tiket pesawat yang mahal. Sehingga pemerintah pusat sudah mengalami langkah-langkah untuk mengatasi persoalan tersebut.

Dengan sedikit menekan maskapai supaya menurunkan harga tiket pesawatnya. Karena kalau harga tiket pesawat mahal, pada prinsipnya tidak ada yang diuntungkan. Pihak maskapai juga dirugikan. Akibat kunjungan wisatawan menurun, tingkat keterisian pesawat juga ikut turun.

‘’Sekarang dengan adanya fenomena harga tiket yang mahal ini, load factor pesawat hanya 40 persen. Kalau sudah begitu, pihak maskapai juga rugi,’’ imbuhnya. Sehingga pihak maskapai juga diingatkan kalaupun mau menaikkan harga tiket jangan terlalu mahal. Bahkan kalau bisa dikembalikan pada kondisi normal sebelumnya. Sehingga bisa mendorong minat wisatawan untuk berwisata.

Pasalnya, dari total biaya berwisata 30 sampai 40 persen diantaranya merupakan biaya transportasi. Sehingga kalau tiket masih juga mahal, maka wisatawan juga masih akan enggan untuk berwisata. ‘’Dengan naiknya harga tiket pesawat, ekosistem pariwisata menjadi terganggu. Dan, untuk mengembalikan kondisi tersebut perannya ada di maskapai,’’ jelasnya.

Menurutnya, kalaupun pihak maskapai mengembalikan harga tiket pesawat tidak akan sampai mengganggu stabilitas maskapai. Karena rata-rata maskapai nasional kondisinya cukup kuat. Artinya, lebih kuat menghadapi kondisi yang ada sekarang ini ketimbang pelaku UKM. Yang jelas sangat terpukul dengan kondisi pariwisata yang lesu seperti sekarang ini.

Pengusaha Hotel dan ‘’Guide’’ Gigit Jari

Lesunya pariwisata dikeluhkan pelaku pariwisata di seluruh NTB. Di Kabupaten Lombok Utara misalnya, sektor pariwisata yang menjadi salah satu tumpuan ekonomi benar-benar terpukul. Dampak gempa beruntun, ditambah situasi low season menyebabkan arus kas perhotelan mengempis. Bahkan di sejumlah hotel, penurunan okupansi hotel mencapai 80 persen hingga mereka harus me-refund orderan sesaat setelah gempa.

GM Hotel Wilsons, Kusnawan, kepada Suara NTB, Kamis, 21 Februari 2019 mengungkapkan, bencana gempa beruntun tahun 2018 lalu membuat perhotelan harus menutup usaha untuk sementara waktu. Sejak gempa besar 5 Agustus, Wilsons salah satunya bar bisa membuka layanan pada 23 Agustus. Hingga akhir tahun, pihaknya terus melakukan pengembalian dana (refund) yang ditransfer pengunjung sebelum gempa.

‘’Dampak terasa sekali saat kita akan terima booking-an baru setelah gempa. Ada beberapa orderan yang cancel dan pengusaha harus me-refund (kembalikan dana) kepada tamu. Agustus banyak yang refund, apalagi peak season sudah mulai sejak Agustus,’’ terangnya.

Kusnawan mengakui, bulan September lalu pihaknya masih menghasilkan dana dari order yang masih bertahan. Untuk periode awal tahun ini sendiri, booking-an baru masih terlihat sepi. Ia mencontohkan, berdasarkan manifest penumpang via FastBoat Bali – 3 Gili, tercatat jumlah penumpang yang naik sebanyak 996 orang dan penumpang turun sebanyak 952 orang. Artinya angka ini masih jauh dari kondisi normal sebelum gempa yang mencapai 2.000 bahkan lebih kunjungan sehari.

‘’Arrival (kedatangan) terasa, kita drop okupansi sampai 80 persen. Sebulan sebelum gempa, rata-rata orderan di atas 70 persen. Juli – Agustus sampai 90 persen bahkan hampir penuh, tetapi itu juga refund,’’ paparnya.

Dalam proses recovery di sektor pariwisata sendiri, pembersihan limbah bangunan terdampak gempa di Trawangan murni dilakukan oleh masing-masing property dengan cara iuran sewa excavator dan dum truk untuk bersihkan puing. Pengusaha dibantu oleh TNI dan Polri.

Dalam situasi ini pun, Kusnawan sejatinya berharap Pemerintah daerah memberi kelonggaran. Bahwasanya, pembayaran pajak ditoleransi melalui kebijakan ‘’relaksasi pajak’’ menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapi. ‘’Pengusaha berpikir, lebih baik tutup sementara sampai pulih karena tidak perlu bayar pajak. Tetapi kami di Wilsons menganggap ini sebagai sebuah risiko sehingga karyawan tidak diPHK.’’

Baca juga:  Ketika ‘’Buyer’’ dan ‘’Seller’’ Jatuh Hati Pesona Lombok-Sumbawa

Terpisah, Kepala Disbudpar KLU, Vidi Ekakusuma, menyebut sejumlah upaya akan ditempuh untuk mendukung recovery. Salah satunya mengakses promosi destinasi wisata melalui program Digital Tourism. Di mana program ini sendiri merupakan program pusat yang bisa dimaksimalkan oleh daerah.

Upaya lain, Disnaker akan bekerjasama dengan Badan Promosi Pariwisata Daerah terutama BPPD Provinsi. Pemda KLU akan meminta bantuan untuk menitip informasi yang bisa ditawarkan kepada calon pengunjung. ‘’Kita di daerah tidak ada promosi ke luar, tapi kita dorong hotel – hotel untuk bekerjasama secara B to B.’’

Dampak sosial terhadap lesunya pariwisata Lombok Utara sangat terlihat. Ia mengingat, di awal-awal setelah gempa, tercatat 16 perusahaan sudah mengajukan PHK/perumahan karyawan. Hal ini diharapkan tidak berkelanjutan, di mana saat pariwisata pulih, karyawan dapat dipanggil kembali untuk bekerja.

Keluhan yang sama juga dari Lombok Timur. Sejak Januari dan diprediksi sampai April angka kunjungan wisatawan mancanegara khususnya akan rendah. Selain menyebabkan okupansi hotel rendah, aktivitas guide pun sudah pasti sangat minim. Musim paceklik bagi para pelaku wisata ini pun tidak saja membuat pengusaha hotel gigit jari, para pemandu wisata pun sepi pelayanan.

Menjawab Suara NTB Kamis, 21 Februari 2019, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Lotim, Ucok Palala menguraikan dampak sepinya kunjungan wisatawan jelas membuat aktivitas belanja ke art shop sepi. Seperti ke Pringgasela, Loyok dan tempat-tempat kerajinan lainnya sudah pasti sepi.

Akibat sepinya kunjungan wisatawan ini membuat para guide di Lotim saat ini banyak yang menganggur. Jumlah guide resmi di Lotim saat ini 30 orang. Dari jumlah itu hanya beberapa orang saja yang masih menjalankan tour bersama para tamu. Sementara sebagian besar untuk beberapa bulan terakhir ini terpaksa menganggur dulu melayani wisatawan berkeliling ke objek-objek wisata. “Terpaksa ada  yang menjadi buruh bangunan dan mengerjakan pekerjaan lainnya,” tutur Ucok Palala.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Safrudin menguraikan sepinya kunjungan wisatawan ini jelas membuat pemilik hotel dan restoran tidak bisa menggaji karyawannya.

Pemilik Hotel Ekas Garden dan Bungalow di Desa Ekas megaku rendahnya tingkat okupansi hotel ini memang sudah terjadi beberapa bulan terakhir. Apalagi bagi wilayah Lotim bagian selatan yang diketahui sebagian besar hanya mengandalkan keindahan alam pantai.

Adanya aktivitas Festival Kaliantan yang akan digelar pekan ini menjadi salah satu penyelamat bagi pengusaha hotel ini. Saat ini hotel-hotel yang ada di selatan menjadi sedikit hidup. Meskipun tidak banyak tamu, namun hotel tidak terlalu sepi. “Alhamdulillah, 60 persen kamar terisi,” tutur Safrudin.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lotim, Muhir yang dikonfirmasi mengakui fakta kunjungan wisatawan yang berdampak besar pada okupansi hotel. Musim saat ini juga tidak bisa dipaksakan untuk mendatangkan wisatawan asing.

Kunjungan yang harus ditingkatkan pada situasi saat ini adalah dari luar daerah. Atau wisatawan domestik. Dilihat tren kunjungan wisatawan lokal ini pun sejauh ini ke objek-objek wisata khususnya cukup banyak. Dampak low season ini dinilai hanya berpengaruh pada tingkat okupansi hotel.

Bagi Lotim, dalam pembangunan pariwisata tidaklah terlalu mengandalkan wisatawan asing. Sudah jelas, untuk wisatawan mancanegara faktor penyebab tidak berwisata ini sangat banyak. Termasuk masalah nilai tukar mata uang. Lebih diprioritaskan wisatawan yang datang ini adalah yang domestik. Terpenting kedatangan para wisatawan ini berbelanja.

Rendahnya kunjungan wisatawan ke Lotim sejauh ini pula tidak lepas dari minimnya event wisata di Lotim, karena belum ada event skala besar. Untuk itu, diperlukan upaya menata even yang berskala nasional hingga internasional yang bisa berdampak besar pada kunjungan wisatawan.

Ditambahkan, dilihat dari indikator tingakt okupansi Hotel, Lotim tidaklah berharap banyak. Selain Lotim minim hotel, juga karena Lombok ini kecil. Wisatawan bisa berkeliling Lombok dalam sehari. Datang menikmati keindahan Sembalun misalnya pada pagi harinya, langsung bisa balik lagi. Karenanya dominan yang coba ingin dibawa ke Lotim adalah dari wisatawan domestik.

Penjualan Souvenir Merosot 

Tingkat kunjungan wisatawan ke Lombok Barat juga rendah, baru 15-20 persen. Akibat kondisi ini, pengusaha hotel pun harus memutar otak agar tetap menjaga keberlangsungan operasional hotel. Pasalnya, dengan tingkat okupansi hotel seperti ini, pendapatan hotel merosot tajam.

Dampak rendahnya kunjungan ini juga sangat dirasakan oleh perajin souvenir. Penjualan mereka pun terjun bebas akibat sepi pengunjung. Untungnya, para perajin ini memiliki trik untuk memasarkan produk mereka. Perajin tak hanya memasarkan secara off line namun secara online, sehingga produk mereka terjual.

Baca juga:  Enam Kapal Pesiar Menyusul Masuk di Pelabuhan Internasional Gili Mas

GM Montana Hotel, Binang Odi Alam mengakui, kondisi sampai bulan ini rata-rata tingkat okupansi masih rendah sekali. Meskipun masih drop, kecenderungan ada kenaikan dalam dua bulan terakhir.

Menurutnya yang diperlukan saat ini bagaimana meyakinkan khayalak ramai bahwa banyak hal yang dilakukan di Lombok terutama Lobar untuk mengangkat pariwisata. Sebab kalau market luar tidak bisa digaet kenapa tidak kata dia diolah market di dalam.

Diakuinya, dampak okupansi yang merosot, pendapatan hotel menurun drastic. Sebelum gempa kata dia, per karyawan diberikan service cas Rp 3,3 juta ditambah gaji UMR Rp 1,8 juta. Sekarang kata dia, akibat tingkat hunian menurun, pihak hotel hanya memberikan service cas Rp 400 ribu. Bahkan ada hotel yang memberikan tidak sampai Rp 400 ribu.

Perajin souvenir di Pasar Seni Sesela Gunungsari juga merasakan dampak lesunya tingkat kunjungan wisatawan tersebut. Pengelola pasar seni Sesela, Fatahul Anwar mengakui mengakui tingkat kunjungan ke pasar seni menurun drastis. Penurunan tingkat kunjungan aku dia mencapai 60 persen. Karena itu untuk mensiasati pemasaran produk kerajinan, pihaknya membagi pemasaran menjadi dua, yakni off line dan online.

Di tahun 2019 ini, okupansi atau tingkat keterisian hotel di Kabupaten Sumbawa rendah. Hal ini salah satunya dimungkinkan karena adanya pengaruh cuaca dan sejumlah faktor lainya.

Pengelola Hotel Tambora, Made Wartawan, mengakui awal tahun ini tingkat hunian di hotel yang dikelolanya rendah. Di mana sejak Januari hingga Februari ini, sangat sepi  dan banyak kamar yang tidak terisi. Hal ini dimungkinkan karena pertama adanya pengaruh cuaca. Selain itu juga dimungkinkan karena sebelumnya juga terjadi kenaikan harga tiket.  Kurangnya jadwal penerbangan juga bisa mempengaruhi.

‘’Bulan Januari kita memang sepi sekali. Termasuk Februari juga sepi. Baru dalam beberapa hari ini ada banyak tamu. Sebelum-sebelumnya paling dua atau tiga kamar terisi,’’ ujarnya.

Diakuinya, di tahun sebelumnya memang tingkat ketersian hotel di bulan Januari dan Februari rendah sekitar 20 sampai 30 persen. Namun di awal tahun ini tingkat keterisian hotel menurun 10 persen. “Memang rata-rata Januari, Februari,  Maret tingkat hunian itu rendah. Tahun kemarin 20 sampai 30 persen. Tapi sekarang sudah turun sekali, sekitar 10 persen. Mungkin pengaruh suhu politik juga. Karena kita kan city hotel, paling orang kunjungan karena bisnis dan kunjungan kerja pemerintah,” jelasnya.

Rendahnya tingkat hunian hotel ini  otomatis mempengaruhi pendanaan juga. Meskipun demikian, untuk sementara pihaknya sambil melakukan pembenahan.

Kabid Pemasaran Pariwisata Dispopar Kabupaten Sumbawa, Ardian Pranata Ilham, S.STP yang dikonfirmasi menyampaikan, mengenai rendahnya hunian hotel di awal tahun dimungkinkan karena pengaruh cuaca. Apalagi di bulan Januari dan Februari masih musim penghujan. Bahkan di bulan Desember lalu sudah masuk musim penghujan. Hanya saja untuk data mengenai hunian di awal tahun ini belum dilakukan perhitungan.

Dijelaskannya, data keterisian hotel di tahun 2017 sebanyak 77.556 dan di tahun 2018 sebanyak 80.762. Dimana terjadi peningkatan di tahun 2018 ini sekitar 4,13 persen. Hal ini karena tahun 2018 terdapat dua event besar yakni Sail Indonesia Moyo Tambora dan Festival Pesona Moyo.

Sementara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Sumbawa Barat, mencatat  tingkat kunjungan wisatawan di tahun 2018 hanya mampu berada diangka 10.000 wisatawan dari target sekitar 15.000 dan terus terjadi di awal tahun 2019. Minimnya tingkat kunjungan ini juga berdampak terhadap okupansi baik hotel maupun penginapan.

‘’Memang secara keseluruhan tingkat kunjungan wisatawan ke KSB masih belum pulih pasca terjadinya gempa. Minimnya tingkat kunjungan ini juga berdampak ke tingkat hunian hotel-hotel yang ada di wilayah setempat. Akibatnya, kini banyak hotel terutama di wilayah Maluk serta Sekongkang memilih untuk banting harga supaya tetap terisi,’’ ungkap Sekretaris Dinas Budpar KSB, Taufik Hikmawan, M. Si kepada Suara NTB, Kamis, 21 Februari 2019.

Menurutnya, selain masalah gempa minimnya sarana penunjang sektor pariwisata terutama transportasi juga masih menjadi masalah klasik yang belum mampu diselesaikan. Seperti ketersediaan bandara dan dermaga rutin bagi para wisatawan ini. Karena selama ini, para wisatawan tidak mau menghabiskan waktunya di jalan tapi di destinasi wisata. Tapi yang terjadi di KSB malah sebaliknya, karena rata-rata membutuhkan waktu berjam-jam ke destinasi bukan menikmatinya. Sehingga permasalahan transportasi harus segera disikapi jika tidak ingin tingkat kunjungan wisatawan menjadi menurun dan juga berdampak pada tingkat okupansi hotel.

‘’Sarana untuk menunjang pariwisatanya yang masih belum kita maksimalkan. Terutama keberadaan bandara dan dermaga ke KSB secara langsung tanpa harus menghabiskan waktu berliburnya di jalan,’’ ujarnya. (tim)