Pasar Seni Sesela Mati Suri, Perajin Beralih Jadi Buruh

Perajin yang masih bertahan di pasar seni Sesela Gunungsari. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Pasar seni Sesela Kecamatan Gunungsari mati suri. Diperparah dampak bencana gempa bumi mengakibatkan pasar seni ini makin terpuruk.

Sepinya pengunjung di pasar seni masih dirasakan hingga kini oleh para perajin, penjualan kerajinan ukiran kayu sepi pembeli. Bahkan kondisi itu dirasakan hingga art shop di kawasan perhotelan.

Terpuruknya keberadaan pasar seni ini  diperparah akibat kalah saing dengan toko oleh-oleh modern yang ada di kawasan Senggigi. Untuk menggaet pengunjung, mereka berani memberikan fee besar kepada guide.

Perajin asal Dusun Lendang Sesela Lukman, mengatakan selain dampak gempa, kawasan itu juga bukan lokasi pariwisata. Disamping, menjamurnya pusat oleh-oleh besar yang juga menjual kerajinan.

“Pasar seni sesela bisa dikatakan mati suri karena sepi, kalah dengan toko oleh-oleh yang ada di kawasan Senggigi,’’ aku Lukman Rahim beberapa waktu lalu.

Menurutnya pengunjung ke toko oleh-oleh lebih banyak dibanding ke pasar seni sebab pihak travel membawa para tamu ke sana. Sedangkan ke pasar seni sendiri sangat jarang. Bahkan tidak ada.

Kondisi ini kata dia mengakibatkan sebagian besar pengrajin memilih beralih profesi sebagai kuli bangunan. Jumlah perajin di sekitar kawasan itu 300 orang lebih. Sebagian besar sudah beralih menjadi buruh bangunan.

“Banyak yang banting setir, sementara ini,” ucapnya.

Pihaknya kini hanya berharap pariwisata Lombok bisa kembali bangkit. Sehingga kunjungan wisatawan yang datang kembali meningkat. Untuk membangkitkan para perajin jelas dia perlu ada keberpihakan dari Pemda melalui kebijakan, bisa saja Pemda membuat aturan mengarahkan atau memberi alternatif para tamu yang datang untuk berkunjung ke pasar seni yang ada di Lobar.

“Untuk menghidupkan kita yang sudah mau mati ini, Pemda harus cepat melakukan kebijakan,” harapnya.

Apalagi kata dia sampai saat ini kondisi belum normal pascagempa. Menurutnya dampak bencana itu membuat penjualan kerajianan menjadi menurun. Dimana sebelum gempa itu dalam sebulan terdapat sekitar 500 lebih pengunjung yang datang. Dia bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp750 ribu perharinya.

“Setelah gempa bisa dibilang sepi,” ucapnya. Meski akhir tahun lalu, ada wisatawan dari luar daerah yang membeli ukiran kayu. Hanya saja jumlahnya tidak banyak jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan tidak menutupi sewa tempat art shop kepada pihak hotel.

Sekretaris Pasar Seni Sesela, Ata’ mengatakan, tingkat kunjungan wisatawan di kawasan Pasar Seni Sesela menurun drastis. Penurunan pengujung yang cukup signifikan, berpengaruh pada tingkat penjualan souvenir di pasar itu.

“Namun meskipun jumlah mereka kurang, tetapi mereka yang datang ini rata-rata belanja, misalnya ada 10 wisatawan yang datang, maka semuanya belanja, syukurnya di situ,” ungkapnya kemarin.

Meski demikian tidak lantas membuat 19 anggota pasar seni itu menutup usahanya. Langkah inovatif dilakukan demi tetap mempromosikan kerajinan kayu, ukiran dan lainnya di pasar seni itu. Hampir seluruhnya melakukan penjualan melalui online. Baik menggunakan blog maupun media sosial Facebook.

“Omzet di pasar seni cenderung menurun, tetapi di penjualan pribadi masih normal,” ungkapnya.

Ia mengatakan para perajin lebih banyak menyasar penjualan yang bersifat pribadi.  Hampir sekitar 80 persen, para perajin dan pengepul sudah bermain penjulan melalui sistem online. “Hampir 80 persen  jualan secara online, seperti Facebook dan media sosial lainnya untuk promosi usaha,” jelasnya.

Iapun tidak membantah pembeli masih datang dari wisatawan lokal. Seperti dari luar daerah maupun dari Pemerintahan Daerah untuk furniture. Sedangkan wisatawan asing kini terbilang sepi bahkan sudah tidak ada. Pendapatannya pun tidak terlalu tinggi jika dibandingkan saat belum gempa.

“Turun hingga 50 persen untuk angka penjualan di ritelnya,” sambungnya.

Selama enam bulan terakhir,  pejualan hasil kerajinan sangat turun drastis. Namun kini secara perlahan penjualan kerajinan sudah mulai tumbuh kembali sejak akhir tahun 2018 lalu. “Mudahan awal tahun 2019 ini penjualan bisa normal kembali,” harapnya. Selain itu pihaknya berharap kepada Pemda Lobar, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat agar semakin aktif melakukan promosi pariwisata di Lombok. (her)