Pedagang : Pasar Kebon Roek Tidak Perlu Dibangun Bertingkat

Hj. Masriah, pedagang sembako di Pasar Kebon Roek Ampenan, Kota Mataram, berharap pasar tradisional tidak perlu berwujud gedung bertingkat. (Suara NTB/mhj)

Mataram (Suara NTB) – Pedagang di Pasar Kebon Roek Ampenan, Kota Mataram, pasrah atas rencana pemerintah Pasar Kebon Roek dikelola oleh pengusaha. Pasar tidak perlu dibangun dalam wujud gedung bertingkat. Pengelolaan secara modern berimplikasi terhadap mahalnya retribusi dibayar pedagang.

Hj. Masriah pedagang sembako di Pasar Kebon Roek, misalnya, menuturkan bahwa dirinya hanya bisa pasrah apa pun kebijakan dari pemerintah, bahwa pasar tradisional ini akan dikelola secara modern oleh investor. “Ini kan program pemerintah, kita ikutin saja,” ujar Hj. Masriah kepada Suara NTB, Jumat, 1 Februari 2019.

Rencananya Pasar Kebon Roek dikelola secara modern, Masriah menambahkan Pasar Kebon Roek merupakan hak milik pemerintah dan bukan sebagai hak miliknya. Maka dari itu, dia tidak bisa berkutik atas rencana pemerintah tersebut.

“Jadi dia mau ambil mau apain terserah dia gitu. Kita nda bisa bilang apa-apa, orang pemerintah yang mau, dia kan yang punya, kita cuma hak pakai saja,” cetusnya.

Jika Pasar Kebon Roek, jadi dikelola secara modern oleh investor dan pengelolaan akan berbeda, retribusi dibayar oleh pedagang alias biaya sewa ditarik oleh pengusaha. Akan tetapi, satu atau dua bulan kedepan, pedagang diberikan keringanan. “Kok pedagang yang bayar? Kan pemerintah yang punya,” tanya Masriah.

Sementara Unah, pedagang di Pasar Kebon Roek, tidak menginginkan pengelolaan Pasar dijadikan sebagai pasar modern seperti yang dijanjikan investor pada Pemerintah Kota. Jika dikelola oleh investor maka penarikan retribusi oleh pengusaha. Maka dari itu, dia menginginkan kepada pemerintah untuk menata Pasar Kebon Roek lebih baik lagi dan tidak mesti harus modern.

“Yang biasa-biasa bikin pasar, ndak usah yang bertingkat kayak sekarang ini,’’ tuturnya. Dia menginginkan agar pemerintah menata Pasar Kebon Roek seperti Pasar di Bertais.

Menurut dia jika itu direalisasikan, secara otomatis pasar modern akan seperti kondisi pembangunan pada tahun lalu, bertingkat, dan di lantai atas tidak akan ada pedagang yang menempatinya. “Ini bukan Jawa, bukan Jakarta. Ini kan Lombok, pokonya tidak cocok di Lombok. Ini dah buktinya nggak ada orang naik ke atas orang belanja, yang di depan aja dia jualan,” pungkasnya.

Pengusaha asal Jakarta berencana akan mengelola Pasar Kebon Roek Ampenan. Nilai investasinya mencapai Rp200 miliar. Tidak hanya pasar saja yang dikembangkan, rencananya lahan parkir juga akan dikembangkan, termasuk membangun hotel di tempat tersebut. (mhj)