Absen Melaut, Nelayan Enggan Berurusan dengan Rentenir

Nelayan di Bintaro Jaya memarkir perahunya di pantai, Senin (28/1). Cuaca ekstrem membuat para nelayan enggan melaut, kendati masih ada nelayan yang nekad melaut untuk menghindari pinjaman dari rentenir. (Suara NTB/mhj)

Mataram (Suara NTB) – Nelayan di pesisir Pantai Ampenan absen melaut sejak beberapa hari terakhir. Meski demikian, mereka enggan dijerat rentenir. Warga lingkungan Pondok Perasi Kelurahan Bintaro menuturkan, mereka tidak melaut akibat gelombang pasang. Para nelayan  trauma jika sewaktu – waktu gelombang tinggi membahayakan nyawa mereka.

“Sekarang lagi nganggur karena lagi nggak berani melaut karena cuaca buruk. Ombak sedang besar,” ujar Yusuf, seorang warga kepada Suara NTB, Minggu, 27 Januari 2019. Meskipun kesehariannya diam di rumah atau menganggur selama cuaca ekstrem, mereka tidak mau berurusan dengan rentenir maupoun ‘’bank rontok’’. Karena, jauh – jauh sebelum cuaca ekstrem telah menyimpan sebagian uang di bank.

Selain takut terjerat hutang, bunga di rentenir memberatkan bagi nelayan. “Kayaknya nggak ada yang terjerat rentenir kalau di sini,  kalau untuk nelayan ndak ada. Kita nelayan seperti ini memang kita siapkan dari jauh-jauh hari sebelum datang bulan ini,” ujar Yusuf.

Penuturan sama disampaikan Sahman. Gelombang pasang, ia fokus memperbaiki perahu miliknya. Berbeda dengan nelayan lainnya, Sahnam tetap nekad melaut, walaupun hasilnya minim. Cara itu dilakukan agar tidak terjerat rentenir. “Kita ndak ada ambil pinjaman,” cerita Sahman.

Dirinya tetap nekad melaut karena tidak ada profesi lainnya yang bisa dikerjakan. Salah satu cara menutupi biaya hidup dengan menangkap ikan. Setiap harinya dia harus melawan arus gelombang, hasil tangkapannya sangat jauh dari sebelumnya. Harga ikan tongkol dijual hanya seharga Rp2.500 per ekor. “Setiap hari, kita dapat tergantung kalau cuaca seperti ini ada dapat 25 ekor ada yang dapat 30 ekor,” tutupnya. (mhj)