Serap Beras di NTB, Bulog Siapkan Rp1 Triliun

Ilustrasi Beras Bulog (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Perum Bulog menyiapkan dana lebih dari Rp1 triliun untuk menyerap beras dan gabah petani tahun 2019 ini. Sesuai rencananya, Bulog akan menyerap 141.655 ton beras dari NTB.

Dana lebih dari Rp1 triliun ini harapannya akan diserap semaksimal mungkin oleh petani agar memberi dampak ekonomi sebesar-besarnya di daerah. Petani hanya menjual beras atau gabahnya ke Bulog untuk memperkuat cadangan beras nasional.

Menurut Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) NTB, Ramlan UE, manajemen Bulog pusat telah menetapkan target serapan untuk tahun ini ke seluruh Divre di Indonesia. Dengan target serapan di NTB sebesar 141.655 ton, atau setara dengan 141.655.000 Kg dikalikan harga pembelian beras petani sesuai Inpres Rp7.300/Kg. Maka, setidaknya, senilai Rp1,03 triliun anggaran Bulog akan mengucur ke petani di NTB.

‘’Tetapi harga ini tidak kaku. Bulog bisa membeli dengan harga pasaran Rp8.030/Kg, kalikan target serapan 2019 (141.655.000 Kg setara beras), sekitar Rp1,137 triliunan,’’ jelas Ramlan UE di ruang kerjanya, Rabu, 9 Januari 2019 kemarin.

Untuk memaksimalkan anggaran yang disedikan Bulog ini sampai ke petani, Bulog akan melibatkan stkaholdernya secara massif. Termasuk tetap menggandeng TNI untuk memaksimalkan serapan pada saat panen sedang berlangsung.

Sebelum-sebelumnya, biasanya untuk serapan beras dan gabah ini, Bulog dominan menerima dari mitra-mitranya. Di penggilingan, maupun pengusaha-pengusaha beras. Pun tahun 2019 ini, polanya tak kaku seperti itu kata Ramlan. Bulog memberikan kelonggaran kepada

petani langsung untuk menjualnya ke Bulog, tanpa melalui perantara. Sehingga, harga pembelian sesuai Inpres juga langsung dinikmati petani.

‘’Silakan saja, petani bisa menjualnya langsung ke Bulog untuk memangkas mata rantai tata niaganya,’’ jelas Ramlan.

Tidak saja melakukan serapan, Perum Bulog juga akan mengoptimalkan stabilitas harga beras di pasaran melalui kegiatan Operasi Pasar (OP). Rencananya, OP akan dilakukan rutin ke pasar-pasar tradisional atau ke pusat-pusat keramaian, bahkan ke komplek-komplek perumahan. Dalam sebulan, Bulog NTB akan menggelontorkan 1.800 ton beras.

OP ini menjadi kegiatan penting yang diprogramkan, bersama dinas dan instansi serta stakeholders lainnya. Sesuai rencana, OP akan digeber hingga musim panen nanti. Agar harga beras dapat dikendalikan di pasar.

Lebih detail Ramlan UE menjelaskan soal harga beras yang dikeluhkan mahal oleh masyarakat, atau pedagang, Rp11.000/Kg untuk beras kualitas premium di provinsi lumbung pangan, menurutnya tak terlalu menjadi soal, selama harganya masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Diketahui,  Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No 57/M-DAG/PER/8/2017 tanggal 24 Agustus 2017, HET beras premium untuk wilayah NTB Rp12.800/Kg dan beras kualitas medium Rp9.450/Kg.

‘’Tugas kita menjaga harga beras ini tetap stabil di bawah HET. Caranya dengan memaksimalkan serapan beras petani, dan menggelontorkannya kembali ke masyarakat melalui kegiatan OP (Operasi Pasar). Melalui OP ini, Bulog menjual beras dengan harga Rp10.000/Kg untuk beras kualitas premium,’’ demikian Ramlan UE. (bul)