Biaya Cargo Melonjak, Petani dan Pengusaha Cabai Mengadu

Para petani dan pengusaha cabai saat diterima di Dinas Perdagangan Provinsi NTB oleh kepala dinas terkait pengaduan soal mahalnya biaya kargo. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Sejak Bulan November 2018 lalu, biaya pengiriman komoditas hortikultura menggunakan cargo mengalami lonjakan. Pengusaha tak bisa berkutik. Sampai akhirnya, mereka mengadu ke Dinas Perdagangan Provinsi NTB, hingga ke Dinas Perhubungan Provinsi NTB.

Lebih dari 10 orang yang terdiri dari pengusaha dan petani cabai yang tergabung dalam Asosiasi Cabai Indonesia (ACI) Provinsi NTB mendatangi Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M. Si, Rabu, 9 Januari 2019 kemarin.

Para petani dan pengusaha cabai ini diterima di ruangan kepala dinas Hj. Selly, bersama Plt  Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, L. Suparno dan Plt. Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Rahmat Wira Putra.

Ketua ACI Provinsi NTB, H. Subhan menyampaikan, mereka merasa sangat terjepit. Disatu sisi, mereka harus membeli cabai hasil panen petani untuk dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Disisi lain, terjadi kenaikan biaya cargo pesawat, lebih dari 100 persen.

Biasanya, biaya kargo maksimal Rp11.000/Kg, naik menjadi Rp23.509/Kg untuk pengiriman ke Batam. Sementara pengiriman ke Pontianak, biaya perkilonya dapat menembus Rp45.000, termasuk didalamnya harga pembelian cabai. Daerah tujuan pengiriman cabai yang menjadi sasarannya terutama sekali ke Batam. Sementara pengiriman ke Jakarta seperti yang disampaikan para pengusaha cabai ini, sudah tak memungkinkan.

Baca juga:  Harga Cabai Melambung

Dengan menghitung nilai penjualan di daerah tujuan alternatif di luar Pulau Jawa, pengusaha kehilangan ribuan dalam sekilonya. Belum mereka menghitung biaya sortir, dan biaya transportasi saat pembelian di tingkat petani. Akibat tingginya harga pengiriman menggunakan kargo ini, para petani ini merasa dilematis. Hingga mereka sepakat mengadu. Harapannya, mereka mendapatkan titik terang, atau solusi agar biaya kargo dapat diperingan.

“Apalagi ada rencana mau ada kenaikan lagi tarif kargo,” lapor H. Subhan, Ketua ACI Provinsi NTB.

Menjawab ini, Hj. Selly menjelaskan, pada prinsipnya, kenaikan biaya kargo murni menjadi kewenangan maskapai. Dalam hal ini, Dinas Perdagangan tak bisa mengintervensi langsung ke ranah itu. Tidak saja biaya pengiriman untuk cabai yang dikeluhkan oleh masyarakat. pun tiket pesawat, dan biaya-biaya pengiriman bahan pokok lainnya juga mengalami kenaikan. Apalagi bahan-bahan bangunan yang digunakan untuk memulihkan kembali Lombok pascagempa.

Baca juga:  Harga Rokok Naik, Ini Hal Yang Perlu Diantisipasi

Solusi yang ia tawarkan dalam jangka panjang. Petani cabai disarankan melakukan ekspor langsung untuk mendapatkan harga penjualan yang lebih tinggi. Pengiriman barang dapat bekerjasama langsung dengan maskapai, salah satunya dengan Garuda Indonesia.

“Nanti kami laporkan ke Kementerian Perdagangan untuk menghubungkan dengan buyer di luar negeri. Kalau ekspor, harga yang didapat lebih tinggi, neraca perdagangan kita juga bisa kita terima. Syarat-syarat kemudahan ekspor, akan dibantu penerbitan SKA-nya (Surat Keterangan Asal) barang,” demikian Hj. Selly.

Seusai di Dinas Perdagangan Provinsi NTB, para petani dan pengusaha cabai lokal ini bergeser ke Dinas Perhubungan Provinsi NTB. Ditemui Kepala Bidang Angkutan Laut dan Udara, Muh. Syakiruddin. Untuk memecahkan persoalan ini, Muh. Syakiruddin mengatakan harus duduk bersama semua stakeholders. Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Angkasa Pura, termasuk maskapai. Dan akan djadwalkan. Para petani  dan pengusaha ini juga disarankan bersurat kepada Gubernur agar menjadi atensi semua stakeholders. (bul)