Beranda Ekonomi Pasar Seni Menunggu ‘’Mati’’

Pasar Seni Menunggu ‘’Mati’’

Mataram (Suara NTB) – Keberadaan pasar seni meredup. Padahal di atas kertas, angka kunjungan wisatawan ke NTB setiap tahun mengalami peningkatan. Seharusnya, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, Pasar seni kena imbas turis-turis berbelanja. Kenyataan sebaliknya, pasar seni menunggu ‘’mati’’. Tak kuat bersaing.

Suara NTB berkunjung ke pasar seni yang ada di Sesela, Gunung Sari, Lombok Barat. Secara geografis, letak pasar seni ini cukup dekat dengan kawasan pariwisata Senggigi. Hanya saja, lokasinya yang tidak berada di jalan utama. Kalaupun ada turis berkunjung ke sana, itu pun hanya karena diarahkan oleh guide.

Pagi menjelang siang Selasa, 23 Januari 2018 kemarin, Pasar Seni Sesela seperti kawasan ‘’mati’’. Tampak tidak  ada pembeli. Beberapa pedagang, di sisi barat pasar seni itu, terlihat nongkrong sambil bercengkrama dengan sesama pedagang di sana. Entah apa yang yang sedang dibicarakan. Di dalam pasar seni, para pedagang menunggu kunjungan.

Di halaman depan, tempat biasanya pendatang parkir, nampak digenangi air. Sisa hujan semalam. Berhadapan dengan pintu utama masuk pasar seni ini, nampak paping bloknya terlihat rusak dan dibongkar. Katanya bekas ban bus yang membawa wisatawan. Kondisinya memang terlihat tidak nyaman. Pasar seni ini seperti tidak refresentatif.

Pasar seni mendapat tantangan yang tidak kecil untuk bertahan. Pertama, tingkat ketergantungannya pada kunjungan wisatawan, terutama wisatawan asing cukup tinggi. Kedua, pasar seni harus bersaing dengan pemodal-pemodal besar yang menyediakan aksesoris pabrikan, dan lokasi usaha yang umumnya cukup strategis.

Ketua Pasar Seni Sesela, Fatahul Anwar mengakui hal itu. Beberapa hal yang dikemukakan tentang eksistensi pasar seni. Pada umumnya, kondisi tersebut berlaku di semua pasar seni. Tingkat kunjungan nyaris  sepi. Hubungannya erat dengan musim low season, biasanya mulai Januari hingga Juni.

‘’Mengingat ketergantungan kita terhadap pariwisata sudah terlalu lama, makanya kita mengembangkan model pemasarannya,’’ kata Atta, demikian  Fatahul Anwar  biasa disapa.

Wisatawan biasanya datang rombongan. Syaratnya, harus kerjasama dengan guide yang membawa rombongan wisatawan yang dimuat kapal pesiar. Januari ini, sudah ada dua rombongan yang masuk ke pasar seni ini.

Sementara di satu sisi, bisa dijumpai pasar seni modern milik pemodal besar di Meninting selalu ramai. Pagi, siang, hingga malam. Bahkan terlihat  tak ada istilah high season dan low season. Mengapa pasar seni yang dikelola masyarakat tak bisa demikian? Atta mengatakan, persoalannya lebih kepada sistem kerjasamanya dengan para pelaku pariwisata.

‘’Entertaine lebih bagus di sana,’’ kata Atta mengistilahkan pembelian fee yang lebih besar.

Cerita Atta tentang Pasar Seni Sesela ini keadaannya menurutnya tak jauh beda dengan pasar seni lainnya. Karena itulah, untuk menyiasati pasar konvensional, para perajin menggunakan sistem pemasaran berbasis daring/online dan media sosial.

‘’Di musim-musim tertentu pasar seni memang sepi. Karena itu layanan online yang kita jalankan dengan cara ‘’berperang pasar’’ di dunia maya,’’ katanya.

Pasar seni ini bisa berkembang. Tergantung kesadaran masyarakat dan seluruh unsur terkait. Bagaimana bekerjasama menjaga kondusivitas daerah, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga budaya menghormati tamu. Seluruhnya agar wisatawan betah tinggal di NTB dan mengeksplore lebih banyak tempat-tempat yang berkaitan dengan pariwisata, selanjutnya mereka berbelanja. (bul)