Perputaran Uang di Masyarakat Belum Pulih Pascagempa

Layanan penukaran uang rupiah yang rutin dilakukan oleh Bank Indonesia. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Dua bulan lebih pascagempa yang terjadi akhir Juli 2018, tingkat perputaran uang di masyarakat terindikasi belum juga pulih. Perputaran uang beredar di masyarakat merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kondisi perekonomian di NTB.

Deputy Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Bidang Sistim Pembayaran, Ocky Ganesia memaparkan, berdasarkan data uang keluar (outflow) dari loket BI Provinsi NTB selama tahun 2018, periode Januari hingga Oktober, sebesar Rp7,639 triliun, dibandingkan outflow pada periode yang sama tahun 2017 sebesar  Rp7,392 maka terjadi kenaikan sebesar  3%. Sedangkan dibanding dengan periode yang sama tahun 2016, yang mencapai Rp6,784 triliun, terjadi kenaikan 9%.

 

Outflow periode Januari hingga Juli 2018 tercatat Rp5,845 triliun atau meningkat 7% dari periode yang sama tahun 2017 sebesar  Rp5,470 triliun. Dan dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp4,893 triliun, atau meningkat 19%.

Ocky merinci, outflow Bulan Agustus hingga Oktober 2018 sebesar Rp1,794 triliun atau sedikit menurun dibandingkan outflow periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp1,922 triliun.

“Penurunan ini dipengaruhi oleh menurunnya transaksi pembayaran di NTB pascagempa yang terjadi akhir Juli dan Agustus 2018,” katanya kepada Suara NTB, Kamis, 8 November 2018 kemarin.

Berdasarkan siklus tahunan penurunan ini, Ocky menganggapnya sebagai hal yang wajar mengingat pada periode Agustus hingga Oktober, tingkat kebutuhan uang masyarakat memang tak terlalu besar.

“Kebutuhan uang masyarakat biasanya akan meningkat pada Bulan Desember. Disebabkan musim libur Natal dan Tahun Baru, serta banyaknya realisasi dari pembayaran proyek pemerintah dan swasta pada di bulan terakhir setiap tahun,” jelas Ocky.

Disisi lain uang masuk (inflow) dari loket BI Provinsi NTB selama tahun 2018. Untuk  periode Januari hingga Oktober, sebesar Rp8,088 triliun, dibandingkan inflow pada periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp7,353 maka terjadi kenaikan sebesar 10%.  Sedangkan dibanding periode yang sama tahun 2016, inflow mencapai Rp7,465 triliun. Artinya terjadi kenaikan 8%.

Pada periode Januari hingga Juli 2018 terdapat inflow Rp6,335 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2017 sebesar Rp5,767 triliun, atau terjadi kenaikan sebesar 10%.

Jika dibandingkan juga dengan periode yang sama pada tahun 2016 terdapat inflow Rp5,597 triliun. Sehingga terjadi kenaikan 13%. Setelah gempa bumi pada akhir Bulan Juli, inflow pada Bulan Agustus hingga Oktober 2018 sebesar Rp1,752 triliun. Sedangkan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2017 sebesar Rp1,585 triliun. Dengan kata lain, terjadi kenaikan 11%. Jika dibandingkan juga dengan periode yang sama pada tahun 2016 terdapat inflow Rp1,867 triliun. Terjadi penurunan sebesar 7%.

“Hal ini mengindikasikan belum pulihnya perputaran uang di masyarakat. Sejalan dengan masih relatif rendahnya transaksi pembayaran barang dan jasa,” demikian Ocky. (bul)