HBY : Soal Jagung, Pusat-Daerah Tak Bisa Saling Mengunci

Bupati Dompu, H. Bambang M. Yasin (Suara NTB/dok)

Giri Menang (Suara NTB) – Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin mengaku tak khawatir dengan kebijakan pemerintah pusat yang akan mengimpor jagung sebanyak 100 ribu ton akhir tahun ini. Ia mengatakan, kebijakan impor ini tak akan berpengaruh terhadap petani jagung di Dompu, karena sekarang bukan musim panen raya.

‘’Mereka (pusat) pasti berhitung. Butuhnya berapa, kapan, yang diimpor berapa? Yang penting impornya jangan waktu panen raya. Kalau sekarang ndak apa-apa,’’ kata Bambang dikonfirmasi di sela-sela menghadiri rapat koordinasi pengawasan daerah (Rakorwasda) di kawasan wisata Senggigi Lombok Barat, Rabu, 7 November 2018.

Ia mengatakan, pemerintah pusat dan daerah tak bisa saling mengunci. Jika saat ini dibutuhkan impor jagung maka tidak ada persoalan. Namun, ia mengingatkan pemerintah pusat ketika musim panen raya, jangan sampai ada impor jagung. Karena pasti

akan berpengaruh teradap harga di petani.

Bupati mendapatkan informasi bahwa pemerintah pusat hanya mengimpor 100 ribu ton jagung.  Ia menyebutkan, jika jumlahnya sebanyak itu maka sekitar 200 truk.

Dengan jumlah impor sebanyak itu, ia merasa tak khawatir. Apalagi jagung yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan.’’Daripada kita tak makan ayam,’’ katanya.

Tahun ini, Bambang menyebutkan target produksi jagung di Dompu seluas 100 ribu hektare atau 800 ribu ton. Dengan produksi sebesar itu diperkirakan perputaran uang dari produksi jagung di daerah Dompu sebesar Rp4 triliun.

Sebagai daerah penghasil jagung terbesar di NTB, bupati mengatakan produksi jagung Dompu telah diekspor ke Filipina dan pasar domestik. Banyak pabrik-pabrik pakan yang membeli jagung Dompu.

‘’Sekarang ini data terakhir, seluas  87 ribu hektare panen. Sekarang di Dompu sepertinya tak mengenal panen raya. Panen raya sepanjang tahun,’’ katanya. (nas)