Sentra Kerajinan di Mataram Belum Pulih

Hamdan, pengrajin di Pasar Seni Sayang - sayang merapikan barang dagangan miliknya pekan kemarin. Pasca gempa bumi bulan Juli lalu, penghasilannya menurun drastis. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pascagempa bumi bulan Juli lalu, aktivitas ekonomi belum sepenuhnya pulihdi Mataram. Ini dirasakan betul oleh para perajin industri kerajinan di Mataram. Pasar Seni Sayang – sayang, Rungkak Jangkok, Mataram Craft Center dan kerajinan emas mutiara sepi pengunjung masih sepi pengunjung.

Pasar Seni Sayang – sayang, Selasa siang, 9 Oktober 2018, belum ada satupun pembeli yang datang. Mismayanti dan H. Hamdan hanya sibuk merapikan aksesoris miliknya. Perajin itu mengamplas kotak tisu terbuat dari kayu dan hiasan cukli.

Gempa bumi beruntun sejak Juli hingga Agustus berdampak ke usaha kerajinan milik mereka. Penjualan turun drastis sampai 100 persen. Kalaupun ada yang berbelanja, hanya satu – dua relawan saja. “Sebelum gempa ada rencana tamu mau datang. Tiba – tiba batal gara – gara gempa,” tutur Hamdan.

Di hari normal omzet mereka mencapai Rp2 juta – Rp3 juta. Pascagempa agak sulit barang laku sampai Rp 500 ribu. Satu – dua wisatawan diakui mulai berdatangan. Tetapi hanya membeli aksesoris saja. Dia meminta Pemkot Mataram menggencarkan promosi.

Mismayanti juga merasakan hal sama. Omzetnya relatif juga terjun bebas. Sebelum gempa bumi bulan Juli lalu, penghasilannya per hari bisa mencapai Rp1 juta perhari.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

Barang – barang kerajinan diburu wisatawan seperti tempat tisu, tempat buah, hiasan dinding dan aksesoris lainnya.

“Bule paling suka ada ciri khas budaya lokalnya, ” ujarnya. Pemkot Mataram diminta mengaktifkan promosi ke luar daerah. Mengabarkan ke wisatawan lokal maupun mancanegara bahwa pariwisata di Mataram dan Lombok umumnya telah aman.

Permainan Fee

Selain faktor bencana alam, keengganan wisatawan berbelanja ke sentra industri karena mahalnya barang – barang dijual ke wisatawan. Satu kerajinan bisa naik 100 persen. Ini disebabkan, perajin harus memberikan fee ke guide.

Mismayanti tak menampik harus berani memberikan fee ke guide. Satu barang yang laku, fee-nya 10 – 15 persen. Konsekuensinya harga barang dinaikkan.

Jatah fee itu dinilai wajar. Sebagian besar sentra kerajinan bergantung ke guide untuk mendatangkan tamu luar. “Ada yang kasih fee 100 persen. Tapi harga barang dinaikkan. Dari harga Rp50 ribu bisa sampai Rp300 ribu – Rp500 ribu,” sebutnya.

Pengrajin asal Rungkang Jangkok, Saidi, juga menuturkan hal sama. Jatah fee untuk guide tidak bisa dihindarkan. Beda halnya, guide yang dijadikan anak angkat oleh bule. Mereka tidak berani membawa ke sentra – sentra indutri. “Paling dibawa ke Pasar Cakra. Karena, barang di sana sama di sentra kerajinan sama. Di sana juga murah,” ujarnya.

Baca juga:  Data Anomali Gempa Jadi Temuan BPKP

Tidak saja aksesoris kata Saidi, kerajinan cukli juga sepi. Paling hanya satu atau dua showroom yang terlihat sibuk mengerjakan pesanan.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Mataram, Drs. H.Lalu Abdul Hamid mengatakan, pihaknya akan mencoba meramaikan sentra kerajinan seperti Pasar Sayang – sayang dengan menggelar festival gendang beleq. Festival ini salah satu cara mempromosikan sentra industri di Kota Mataram. “Jadi ndak mati suri. Nanti buatkan festival gendaq beleq biar ramai,” ucapnya.

Dia membantah adanya permainan fee, sehingga menyebabkan pusat kerajinan di Mataram sepi pengunjung. Dinas Pariwisata bekerja sama dengan pelaku pariwisata di Mataram, untuk meminimalisir permainan fee para guide. “Ndak ada fee,” tegasnya.

Alternatif lainnya untuk meramaikan Pasar Seni Sayang – sayang dengan memindahkan kantornya ke sana. Ini dianggap cara untuk meramaikan pasar seni tersebut. (cem)