Membangun Pertanian dan Pendidikan, Mengerami Talenta Lokal

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Sektor pertanian menjadi salah satu ujung tombak pembangunan di NTB. Sektor ini merupakan tempat banyak orang menggantungkan hidupnya. Peningkatan produktivitas di sektor ini, menjadi salah satu kunci untuk memajukan kesejahteraan warga NTB.

Demikian benang merah pemikiran Dr. H. Zulkieflimansyah, Gubernur NTB yang dilantik bersama Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, hari ini, di Jakarta.

Mengingat luasnya cakupan, membangun sektor pertanian tentu saja tidak sederhana. Namun, juga tidak begitu rumit. Penerapan teknologi pertanian, adalah pendekatan awal yang akan didorong oleh pasangan Zul-Rohmi di masa jabatannya nanti.

Teknologi dan industrialisasi di sektor pertanian, diyakini akan memacu produktivitas. Misalnya, lahan sawah yang tadinya hanya panen sekali selama setahun, dengan teknologi irigasi yang presisi, bisa menikmati panen dua kali setahun.

Bagi nelayan yang menangkap ikan, pengenalan teknologi untuk mengawetkan ikan hingga awet berhari-hari tanpa bahan berbahaya, bisa sangat bernilai buat mereka. Demikian juga dengan petani sayuran yang sayurannya bisa dibuat lebih segar dalam jangka waktu lebih lama, sekaligus tetap aman untuk dikonsumsi, dengan sentuhan teknologi sederhana.

‘’Dengan teknologi sederhana, misalnya, sayur atau ikan, dengan injeksi listrik yang bagus, bisa hilang bakteri busuknya. Ketika ikan tidak busuk dalam jangka waktu yang cukup panjang, impact terhadap kehidupan petani itu luar biasa,’’ ujarnya.

Teknologi juga membuat petani tidak perlu mengerjakan sawah dengan terlalu banyak tenaga manusia. Sehingga, mereka bisa menikmati margin keuntungan yang lebih besar setelah panen.

Lalu, tenaga kerja yang tak terlibat di bidang cocok tanam ini, akan diserap di sektor industri pengolahan yang terintegrasi dengan pertanian. Hal ini tentunya mensyaratkan adanya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di NTB. ‘’Makanya kehadiran UTS itu untuk meningkatkan produktivitas di sektor pertanian. Intinya produktivitas,’’ ujar Dr. Zul.

Tokoh pendiri UTS ini meyakini, teknologi yang diterapkan di sektor pertanian tidak harus rumit. Industri permesinan dihidupkan, namun tetap sesuai dengan kebutuhan lokal. Untuk tujuan ini, proyek Science Techno Park (STP) dan Industrial Park yang saat ini sudah berjalan di Sumbawa, akan tempat yang baik untuk menyemai bibit-bibit industri permesinan di NTB.

Pengalaman berkeliling menemui petani di masa Pilkada NTB, mengajarkan Dr. Zul akan sederhananya pendekatan yang ingin dirasakan oleh petani dan nelayan NTB. Ekspektasi mereka sesungguhnya tidaklah terlampau tinggi. Mereka hanya menginginkan pemerintah jujur dalam memberikan bibit, menyediakan pupuk saat dibutuhkan. Dan harga komoditas hasil panen tidak anjlok saat panen.

Baca juga:  Menyerap Aspirasi, Menginformasikan Program melalui Safari Subuh

‘’Mereka tidak berharap program yang ribet-ribet,’’ ujarnya. Sayangnya, Dr. Zul juga mengakui bahwa pihaknya melihat masih ada sekelompok oknum penentu kebijakan yang “bermain” dalam persoalan bibit dan pupuk ini. Selain itu, pemerintah daerah juga memang tidak bisa mengontrol harga karena industri manufakturnya belum di sini.

Hal lain yang penting untuk diperhatikan di sektor ini, menurut Dr. Zul adalah memastikan pertanian tumbuh tanpa melahirkan kerusakan alam.

“Harus ada edukasi untuk kesinambungan pertanian kita. Jangan sampai karena ingin mendapatkan keuntungan ekonomi karena jagung, lalu kita membabat hutan. Kita dapat ratusan miliar dari jagung, tapi ketika datang banjir besar, kita rugi triliunan,” ujarnya.

Olahraga dan Belajar ke Luar Negeri

 

Meski belum menjabat, untuk urusan pendidikan, Dr. Zul sebenarnya sudah mulai bekerja membuka akses bagi anak-anak muda NTB untuk belajar ke luar negeri. Bagi Dr. Zul, belajar ke luar negeri bukanlah demi gengsi semata.

Para pemuda NTB, menurutnya harus memiliki pengalaman dan relasi yang berskala internasional, agar tidak merasa inferior ketika orang dari luar datang ke NTB dan mengerjakan berbagai hal besar.

“Akan ada yang datang membangun smelter, kawasan mandalika dan lain-lain. Jadi ke luar negeri itu agar kita punya kesiapan berkompetisi secara terbuka dan sehat. Saya sedang mencari cara pembiayaannya, dan sudah ada cahaya yang terbuka di ujung terowongan,” ujarnya.

Untuk membuka beasiswa ke luar negeri ini, Dr. Zul sudah sempat berkunjung langsung ke Polandia. Dengan difasilitasi karibnya, Peter F. Gontha, Dr. Zul bertemu dengan banyak tokoh serta penentu kebijakan di bidang pendidikan di Polandia. Hasilnya pun cukup menggembirakan. Bulan Oktober mendatang, direncanakan sudah akan berangkat kelompok pertama dari pemuda NTB yang akan menjalani studi di Polandia.

Masih terkait dengan kepemudaan, sektor olahraga juga menjadi catatan yang menarik untuk disentuh oleh kebijakan pasangan Zul-Rohmi nanti.

Baca juga:  Catatan Politik 2019, Rekonsiliasi Pasca-Pilpres dan Konsolidasi Politik Zul-Rohmi

Dr. Zul meyakini, prestasi di bidang olahraga merupakan salah satu tolok ukur kesejahteraan sebuah daerah. Penyelenggaraan event-event olahraga, kini tidak bisa lagi semata dilihat sebagai sebuah kegiatan tanpa efek nyata.

“Menjadi tuan rumah event-event olahraga itu menghadirkan kesejahteraan. Kenapa Sumatera Selatan, ada SEA Games, Asian Games dan sebagainya, karena itu membawa dampak ikutan. Jadi sekarang harus mulai venue-nya dipindahkan ke sini. Makanya, event-event di jaman kami menjadi pimpinan ini harus lebih banyak,” ujarnya.

Karena olahraga membawa dampak besar terhadap kemajuan ekonomi, maka tidak ada pilihan lain selain memberikan perhatian serius kepada bidang ini. Namun, mengingat luas dan beragamnya dunia olahraga, Pemprov NTB mau tidak mau harus berani menentukan prioritas cabang olahraga yang kompatibel dengan potensi lokal.

Dr. Zul menyebutkan Cabor atletik sebagai contoh dalam menentukan prioritas ini. Prestasi para atlet atletik NTB, saat ini telah membawa NTB melejit di pentas nasional, bahkan internasional. Selain atletik, NTB juga memiliki kecocokan untuk mengembangkan cabor beladiri. Di jenis cabor ini, para pemuda/pemudi NTB menorehkan banyak catatan membanggakan.

Menurut Dr. Zul, hal ini karena selama beberapa tahun terakhir para penentu kebijakan di NTB memang memiliki keberanian menaruh skala prioritas kepada cabor yang punya kemampuan kompetitif yang lebih baik dibanding daerah lain.

“Sudah terbukti, teruji bahwa NTB ini sangat piawai, andal dalam atletik. Karena itu, dibanding sport yang lain, atletik ini harus menjadi prioritas. Kita bisa mengerami talenta besar untk Indonesia bahkan disaksikan oleh dunia. Sebagaimana Kenya, Jamaika, Etiopia memang punya karakter khusus di bidang ini,” ujarnya.

Kecocokan kultur lokal dengan potensi cabor yang cocok dikembangkan, menurutnya dapat menjadi kajian yang menarik bagi para pemerhati atau ilmuwan yang mendalami bidang ini. Hal lain yang juga perlu dibangun adalah bagaimana memastikan olahragawan di NTB tidak berhenti karirnya selepas pensiun sebagai atlet.

“Setelah dia tidak lagi punya prestasi, apakah ada kanal menjadi komentator, pemerhati olahraga, jadi rute hidupnya jelas. Kalau Zohri nanti sudah tua, dia bisa jadi pelatih lari, bisa jadi penulis olahraga, pengamat atletik,” ujar Dr. Zul memproyeksikan. (aan)