PLN Temukan 3.000 Lebih Sambungan Listrik Ilegal

Mataram (Suara NTB) – PLN telah melakukan penyisiran kepada 17.000 pelanggannya di NTB. Dari kegiatan ini, selama triwulan I tahun 2018 (Januari-Maret),  ditemukan 3.000-an sambungan listrik yang teridentifikasi ilegal.

Selama triwulan I ini juga, PLN telah mengakumulasi ada 4 juta kWH yang menguap begitu saja. Akibat ulah oknum ini, PLN setidaknya menanggung kerugian hingga Rp 4,5 miliar.

Hal ini diungkapkan Manajer Transmisi dan Distribusi PLN Wilayah NTB, Jhonni Putra usai memaparkan ketenagalistrikan di NTB pada forum sosialisasi peningkatan pemahaman masyarakat dan pemakaian pemanfaatan tenaga listrik di Mataram, Kamis, 3 Mei 2018.

Trennya hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Atas persoalan ini, PLN sekaligus melakukan tindakan dengan melaporkannya ke Aparat Penegak Hukum (APH).

Dari jumlah temuan tersebut, disimpulkan bahwa pelanggaran yang paling mendominasi soal P1 dalam istilah PLN, atau yang lazim disebut perubahan batas daya. Misalnya KWh rumah  di dalam kontrak dayanya 900 VA. Akan tetapi, lantaran daya tersebut sudah tidak mencukupi untuk mengimbangi kebutuhan listriknya, dilakukan penggantian dengan daya yang lebih tinggi. Dengan mengubah MCB-nya dari 10 amphere menjadi 16 amphere.

Baca juga:  Investasi Energi Terbarukan, Solusi untuk Hindari Krisis Listrik

“Sehingga daya menjadi naik, tanpa merubah atau melakukan permohonan kepada PLN terlebih dahulu,” kata Jhonni.

Lalu yang mendominasi kedua adalah kasus pencurian setrum. Dimana, dalam praktiknya, masyarakat/oknumnya melakukan sambungan langsung ke jaringan listrik PLN tanpa prosedur yang seharusnya diikuti.

Kasusnya hampir merata terjadi di NTB. Salah satu yang dianggap paling besar terjadi di wilayah Sekotong, Lombok Barat. Dimana salah satu oknum memfasilitasi masyarakat teknis penyambungan langsung jaringan langsung setrum PLN.

Jhonni menyebut kasus ini telah dilaporkan ke Polres Lombok Barat dan saat ini sedang dilakukan penyidikan. Modus yang digunakan oleh para pelaku (calo listrik) biasanya memanfaatkan masyarakat yang minim menerima informasi PLN. Oknumnya kemudian menyediakan jasa sambungan listrik kepada masyarakat

Baca juga:  Pasokan Listrik Diperkirakan Normal Akhir November

“Kasus yang di Lombok Barat sedang penyidikan. Kenapa dilaporkan, karena biasanya ada 400 pelanggan yang disambungkan secara ilegal. Satu dua orang inilah pelakunya. Akhirnya PLN mengambil sikap,” jelasnya.

Penyalahgunaan sambungan listrik milik PLN Ini temuan terbanyak di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Persoalan ini ditangani serius oleh PLN. Bagi yang terbukti melakukan pelanggaran, ancamannya sesuai UU akan dikenai denda Rp 2,5 miliar dan 5 tahun penjara.

Mengantisipasi kerugian yang lebih besar. PLN telah menyiagakan tim Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL). Total sebanyak 46 tim yang disiagakan di seluruh wilayah di NTB. Selain tim ini, PLN juga aktif membaca bank data yang mencatat tren penggunaan listrik oleh pelanggan.

“Kalau ada yang tiba-tiba penggunaan listriknya turun drastis dari biasanya, kami lakukan identifikasi. Termasuk kita menerima laporan-laporan dari masyarakat,” demikian Jhonni. (bul)