Ekspor Jagung Harus Gunakan Nama NTB

Mataram (Suara NTB) – Pengamat Ekonomi Universitas Mataram Dr. M. Firmansyah, mendukung upaya pemerintah daerah memperjuangkan agar ekspor jagung yang dilakukan oleh salah satu perusahaan eksportir di Sumbawa, dapat menggunakan nama NTB sebagai penghasil (produsen).

Hal ini menjadi sangat penting, dengan menyertakan Surat Keterangan Asal (SKA) atas nama komoditas NTB, dapat mempengaruhi neraca perdagangan NTB. Di mana, neraca perdagangan ini salah satunya sebagai komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi.

Seperti diketahui, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. H. Putu Selly Andayani, M.Si., mewakili Pemprov NTB menyatakan keberatannya, atas ekspor jagung yang dilakukan PT. Seger Agro yang berbasis di Kabupaten Sumbawa, melakukan ekspor ratusan ton ke Filipina.

Pengapalan telah dilakukan, sekitar 11.000 ton dari target ekspornya 300.000 ton. Sayangnya, SKA ekspornya, menggunakan nama Jawa Timur dengan alasan perusahaan, induk perusahaannya ada di Surabaya.

Pemprov sekaligus mengancam akan menghentikan ekspor jagung dari NTB, sampai SKAnya menggunakan nama NTB sebagai daerah produksinya. Meskipun, ekspor dilakukan langsung melalui Surabaya.

Baca juga:  131 Ribu Hektare Hutan NTB Dirambah

Menurutnya, dari sisi transaksi di tingkat bawah (pedagang dan pembeli), ekspor menggunakan atas nama luar daerah tak memberikan pengaruh, karena transkasi tetap terjadi. Dalam konteks yang lebih luas, ekspor komoditas lokal menggunakan nama daerah lain sebagai asalnya, akan merugikan daerah, karena neraca perdagangannya tak terungkit.

“Nilai ekspor kita harusnya tinggi, justru tidak berpengaruh. Bagi daerah ya merugikan. Karena ekspor adalah salah satu penentu pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Perlu win-win solution menurut anggota tim pengkaji investasi daerah ini. Pemerintah daerah juga tak bisa sarkastis bersikap. Sebab tidak mudah mendatangkan perusahaan yang menyerap langsung produksi petani, dalam jumlah cukup besar.

Sementara, mengandalkan pasar dalam negeri tidak memungkinkan penyerapannya sebesar serapan ekspor. “Bagaimana caranya, transaksi tetap jalan. Pembeli besar tidak pergi, tidak mudah mencari penggantinya,” ujarnya.

Baca juga:  Menabur Jagung, Memanen Banjir

Dr. Firmansyah mengatakan, lain halnya bila ada perusahaan daerah yang mengambil alih ekspor. Tentu dengan catatan, perusahaan daerah memiliki kekuatan finansial. Di samping dukungan kekuatan jaringan usaha di luar negeri untuk mendukung aktivitas perdagangan internasionalnya.

“Kalau perusahaan daerah mampu menggantikannya. Alangkah baiknya,” sarannya.

Atau alternatif lainnya, bila produksi jagung di NTB yang demikian besarnya diolah oleh masyarakat NTB secara massif untuk pembuatan berbagai jenis produk turunan. Juga akan sangat lebih baik. Serapan tenaga kerjanya akan lebih tinggi, aktivitas ekonominya juga akan lebih tinggi. Peran dari dinas terkait.

“Kemarin waktu forum SKPD, SKPD primer yang tangani pertanian, perkebunan paling tidak siapkan perangkat mengeksplor bagian-bagian yang bisa diintervensi. Maksudnya, agar seluruh nilai tambahnya bisa didapat oleh daerah,” demikian Firmansyah. (bul)