Suku Bunga Tinggi, Kreditur KPR “Angkat Tangan”

Mataram (Suara NTB) – Satu persatu konsumen Bank BTN, terutama kreditur KPR komersil angkat tangan. Tak kuat menanggung tingginya suku bunga kredit, mereka mundur teratur. Tingkat kebutuhan rumah di NTB begitu tinggi. Sayangnya, tak sebanding dengan tersedianya unit perumahan oleh pengembang setiap tahun.

Disatu sisi, mereka ingin memiliki rumah. Disi lain, mereka dihantui tingginya suku bunga kredit. Bank Indonesia melakukan penyesuaian suku bunga acuan hingga beberapa kali. Saat ini menjadi 4,25 persen. Sayangnya bank tak mengikutinya. Suku bunga KPR komersil bahkan hampir menembus 13 persen.

Satu persatu, nasabah BTN, kreditur KPR komersil merasa tak kuat menanggung beban cicilan. Daripada menunggu suku bunga diturunkan, keputusan mereka memilih menjual rumah yang telah mereka tempati lebih dari satu tahun.

Andi Gilang salah satunya. Nasabah Bank BTN Mataram. Setahunan lalu telah melakukan akad kredit rumah type 42 di salah satu perumahan di Kota Mataram. Rumahnya kini dijual lantaran cicilan sebelumnya yang ia bayar sebesar Rp 2,8 juta, belakangan naik menjadi Rp 3,1 juta. Itupun tanpa pemberitahuan dari pihak bank secara langsung.

“Suku bunganya naik dari 10,75 menjadi 12,75. Tentu kenaikannya akan terus-terusan, bisa habis saya,” keluhannya. Pemberlakuan suku bunga baru, oleh dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Mataram ini, diketahui saat dilakukan pembayaran. Ia menerima telepon pemberitahuan kekurangan setoran, padahal setoran biasanya Rp 2,8 juta sebulan.

“Setelah dicek bank, ternyata sudah ada kenaikan. Kaget saya. Ada juga tetangga saya yang naiknya langsung Rp 500 ribu, makanya agak berat. Mau ndak mau jual,” imbuhnya.

Contoh kasus lainnya, Awaludin. Ia telah hampir setahun ini melakukan akad kredit dengan Bank BTN, untuk pembiayaan rumah type 30 di salah satu perumahan di Kota Mataram. Belum sempat ditinggali, rumah ini setorannya tiba-tiba naik.

“Kenaikan suku bunga dari 9,90 persen menjadi 12,75 persen. dan harusnya kenaikannya setelah bulan ke 12. Ini baru setoran saya yang ke 11,” akunya.

Keluhan ini ia tanyakan langsung ke CS Bank BTN Kantor Cabang Pembantu Airlangga. Jawaban yang diterimanya, tahun pertama bank memberikan suku bunga promosi sebesar 9,90 persen. selanjutnya mengikuti suku bunga komersil

normal. Persoalan inipun dikeluhkannya langsung ke OJK NTB. Ia mempertanyakan dimana posisi otoritas dalam hal ini.

“Suku bunga sudah disesuaikan oleh BI sejak tahun 2016. Sementara yang berlaku sekarang sampai hampir 13 persen. Ini cukup memberatkan,” ujarnya.

Karena itu, ia memutuskan untuk melakukan over kredit. Kenaikan setoran sebesar Rp 310.000/bulan hanya dalam waktu singkat menurutnya menakutkan bagi masyarakat. Apalagi di tengah situasi ekonomi seperti ini.

Kepala OJK NTB, Farid Faletehan mengharapkan agar ada laporan detail yang diterima nasabah dari bank. Apakah kenaikan tersebut setelah masa promosi habis, atau karena bank memang menaikkan suku bunga.

“Kalau memang dinaikan, kita akan langsung hubungi kantor pusat (Bank BTN) bila perlu. Tapi harus jelas dulu informasinya,” demikian Farid.

Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Provinsi NTB, L. Anas Amrullah juga tak memungkiri lesunya penjualan KPR komersil salah satunya karena pertimbangan masyarakat akan suku bunga. Persoalan ini menjadi pembahasan khusus di REI NTB. Karenanya, organisasi para pengembang ini juga mendorong perbankan menjadikan suku bunga KPR komersil satu digit (di bawah 10).

“Kalau saya lihat, yang kena ini yang sudah memasuki setoran tahun kedua. Satu tahun suku bunga flat, tahun kedua mengikuti suku bunga acuan,” ujarnya.

Suku bunga promosi diharapkan berjalan selama lima tahun. Tidak satu tahun seperti kebijakan saat ini. dengan pertimbangan, setelah lima tahun akan ada perbaikan ekonomi nasabah. Beberapa bank memberikan alternatif ini, salah satunya Bank Mandiri.

“Harusnya kalaupun ada kenaikan, jangan sarkastis dari 7 persen atau 9 persen, menjadi hampir 13 persen. Ini salah satu pemicu daya beli masyarakat pada KPR komersil rendah. kita harapkan suku bunga KPR segera diturunkan,” sarannya.

Sementara Kepala Bank BTN Mataram, Dedi Kurniadi menjelaskan, seluruh keputusan mengenai suku bunga KPR kebijakannya di pusat. Awal tahun ini sedang dilakukan pembahasan program, salah satunya soal rencana menyesuaikan suku bunga KPR.

Ia menyebutkan, biasanya satu atau dua tahun sejak akad konsumen, didapat suku bunga promosi. Setelah itu, kembali kepada suku bunga pasar. Informasi inipun sebenarnya telah diterima nasabah, saat melalukan akad kredit.

“Besok ada Musda REI NTB. Salah satunya akan disampaikan juga soal suku bunga KPR,” demikian Dedi. (bul)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.