Ekonomi NTB Rentan Risiko

Mataram (Suara NTB) – NTB memiliki potensi pertumbuhan ekonomi sangat besar. Namun di sisi lain, pertumbuhan yang potensial itu sangat rentan dengan risiko . Karena itu, harus dikembangkan sumber-sumber penggerak ekonomi alternatif lainnya.

Demikian disampaikan, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng dalam sambutannya pada pelantikan Achris Sarwani sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Jumat, 26 Januari 2018 kemarin.

Achris Sarwani yang sebelumnya Kepala Divisi Pengelolaan Kebijakan SDM BI Pusat menggantikan Prijono yang selanjutnya bertugas sebagai Kepala Perwakilan BI Kalimantan Barat.

Menurut Sugeng, BI melihat potensi yang dimiliki NTB ini cukup besar. Misalnya, ada KEK Mandalika, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan sumber daya alam lainnya yang melimpah. Pertumbuhan ekonomi NTB juga ditopang oleh sektor pertambangan. Dengan aktivitas tambang PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Potensi tambang inilah yang membuat menjadi salah satu sumber utama risiko di maksud.

‘’Kalau harga hasil tambang rendah, ekonomi NTB bisa turun. Pak Achris (Kepala BI NTB baru) bisa cari potensi lain untuk menopangnya,’’ pesannya.

Sugeng mengemukakan betapa potensialnya sumber daya alam NTB. Salah satu potensi besar itu katanya ada di KEK Mandalika. Kemarin pagi, Sugeng berkesempatan mengunjungi KEK Mandalika di Kute, Lombok Tengah. Ia kemudian membandingkan KEK Mandalika dengan  kawasan-kawasan pariwisata yang pernah dikunjungi di berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga:  Dampingi ITDC, PT. PII Pastikan Investasi di KEK Mandalika Aman

‘’KEK Mandalika potensinya tak kalah jauh bila di bandingkan dengan potensi alam di Indonesia, NTB di dalamnya. Hanya saja, kepandaian mengemas potensi itulah yang membuat setiap orang tertarik untuk berkunjung,’’ katanya mengingatkan.

Di KEK Mandalika, ia melihat satu persoalan yang harus selesaikan dan itu butuh proses. Misalnya, bagaimana menertibkan para pedagang produk khas lokal, termasuk anak-anak kecil yang menawarkan jasa dengan cara agak memaksa. Itu membuat orang yang datang menjadi tak nyaman. Karena itu, masyarakat harus terus diedukasi.

Selain itu, potensi besar pengembangan ekonomi selain tambang yakni UMKM. Rencana akan dibangunan puluhan hotel di salah satu pusat pariwisata di NTB, bisa menjadi potensi besar bagi para UMKM berkembang.

Caranya, harus dijembatani kerjasama antara pelaku UMKM dengan pengelola hotel. Tugas BI, terus melakukan pendampingan kepada para pelaku UMKM untuk peningkatan kualitas dan mutu produk.

Sugeng juga melihat hasil kerajinan cukli. Menurutnya, industri meubeler dengan mengawinkan kayu dan cukli (ampas kerang mutiara yang dibentuk dan ditempel di permukaan kayu), memiliki nilai jual yang sangat tinggi di luar negeri. Karena itu, potensi kerajinan cukli ini bisa juga dikembangkan.

Baca juga:  Pengembangan The Mandalika, Jangan Lupakan Masyarakat Lokal

‘’Seluruh potensi-potensi ini bisa dikembangkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi di NTB,’’ katanya.

Peran BI ke depan akan terus diperkuat dalam berbagai aspek. Adapun aspek-aspek tersebut antara lain sebagai mitra strategis pemerintah dalam pengembangan ekonomi daerah. Pengendalian inflasi, pemenuhan kebutuhan uang layak edar di masyarakat serta penguatan fungsi sistem pembayaran dalam hal penyaluran bantuan sosial non-tunai serta penertiban kepada penyelenggara KUPVA dan transfer dana ilegal.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia yang baru, Achris Sarwani mengatakan akan fokus mendukung pemerintah daerah memperkuat aspek-aspek penopang ekonomi di luar tambang. KEK Mandalika, pertanian, peternakan, dan budidaya serta hilirisasi produk.

Soal UMKM, tahun ini kesempatan besar bagi Indonesia setelah ditunjuk sebagai tuan rumah pelaksanaan pertemuan tahunan Bank Dunia yang akan dilaksanakan di Bali, serta menghadirkan lebih dari 15.000 peserta dari berbagai negara.

‘’Saya ingin produk UMKM kita bisa dimunculkan di event internasional itu. Kita koordinasikan dengan semua pihak. Dan memperkuat kesiapan produk-produk UMKM kita tampil. Itu momentum besar yang akan mendatangkan efek ekonomi yang tidak kecil bila dikelola lebih awal,’’ demikian Achris. (bul)