Ekspor Non Tambang Masih Jauh dari Harapan

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Pengiriman barang ke luar negeri, di luar komoditas barang tambang masih sangat jauh dari harapan. Karenanya, seluruh sumber daya alam yang ada di bumi NTB ini harus dikelola lebih baik. Harus ada komoditas lain yang menopang ekspor NTB, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Edang Tri Wahyuningsih dalam rilis ekspor impor di kantornya, Senin, 15 Januari 2018 kemarin.

Endang memaparkan, ekspor NTB selama ini didominasi oleh hasil-hasil tambang. Sementara non tambang, dominasinya hanya 0,0 sekian persen. Karenanya, ketika hasil tambang mengalami fluktuasi, pertumbuhan ekonomipun mengikuti irama itu. “Berharap ada komoditas penolong ekspor. Sehingga tak mengalami kontraksi sewaktu-waktu. Ini PR besar kita,” imbuhnya.

Beberapa komoditas non tambang yang sebelumnya diekspor, misalnya melon, kini tak lagi ada catatan ekspornya. Mungkin terbentuk produksi kata kepala BPS. Namun yang masih membanggakan, ekspor NTB yang masih eksis yakni mutiara. Ada juga hasil olahan dari jagung dan mangga pasarnya telah masuk luar negeri.

Ekspor lainnya yang cukup membanggakan, dalam catatan adalah kain perca. Tidak disebut secara rinci apa macamnya. Setidaknya, ekspor kain perca ini telah menembus Amerika Serikat.

Data ekspor yang dirilis kemarin, nilai ekspor Provinsi NTB Bulan Desember 2017 sebesar US$158.378.320 mengalami peningkatan sebesar 147,02 persen jika dibandingkan ekspor Bulan November 2017 yang nilainya US$64.116.826. Ekspor pada Bulan Desember 2017 yang terbesar ditujukan ke negara Philipina sebesar 68,26 persen, Jepang 31,01 persen dan Vietnam 0,23 persen.

Jenis barang ekspor Provinsi NTB yang terbesar pada Bulan Desember 2017 adalah barang tambang/galian non migas senilai US$ 157.211.566 (99,26 persen); perhiasan /permata seniai US$ 465.238 (0,29 persen) dan ikan dan udang sebesar US$383.773 (0,24 persen).

Sementara itu, nilai impor pada Bulan Desember 2017 bernilai US$2.935.760, nilai ini mengalami penurunan 54,67 persen dibandingkan dengan impor Bulan November 2017 yang sebesar US$6.476.384. Sebagian besar Impor berasal dari negara Korea Selatan (29,93%), Amerika Serikat (18,18%) dan Philipina (12,81%). Jenis barang impor dengan nilai terbesar adalah bahan bakar mineral (41,14%), mesin-mesin/pesawat mekanik (29,73) dan bahan peledak (10,73%).

“Bahan-bahan peledak ini digunakan untuk aktivitas tambang,” demikian Endang. (bul)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.