13.000 Rumah Subsidi Dibangun Tahun Ini

Mataram (Suara NTB) – Real Estate Indonesia (REI) Provinsi NTB sudah me- list rencana pembangunan perumahan oleh anggotanya tahun 2018 ini. Terhimpun data, ada 13.000 unit rumah subsidi yang rencananya telah siap akan dibangun.

Rencana pembangunan ini tersebar di beberapa kabupaten di NTB.  Ada 56 anggota yang siap membangun kata Ketua REI Provinsi NTB, H. Miftahuddin Ma`ruf, SH di kantornya, Senin, 8 Januari 2018 kemarin.

Nyaris seluruh anggota REI NTB, atau sekitar 99 persen bermain di perumahan subsidi. Perumahan komersil sejauh ini mengalami perlambatan pernjualan. Selain karena faktor itu, perumahan subsidi menjadi program perioritas pemerintah.

“Kita tugasnya melaksanakan apa yang menjadi program pemerintah. Kita mendukung terwujudya program prioritas rumah subsidi,” kata H. Ma`ruf.

Animo masyarakat untuk memiliki rumah dianggap sangat tinggi. Dilihat dari progres tahun 2017 lalu, REI Provinsi NTB merencanakan akan membangun 2.500 unit sampai 3.000 unit rumah subsidi. Faktanya, 5.000 konsumen telah menandatangani realisasi pencairan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di bank penyalur.

Ma`ruf mengemukakan ada 18.000 unit kekurangan rumah (backlog) se NTB, dilihat keadaan tahun 2016 lalu. Tahun 2017, pengembang

sudah memenuhi kebutuhan tersebut 5.000 unit. Artinya ada 13.000 backlog yang harus ditutupi. Jika tahun ini terpenuhi 13.000 unit, maka kekurangan tersebut bisa ditutupi tahun ini.

“Tapi kita tidak usah muluk-muluk untuk tahun ini. Paling tidak 7.000 saja terpenuhi, sudah bagus itu,” imbuhnya.

Tahun 2018 diperkirakan pasar rumah subsidi semakin baik. Karena itu, REI Provinsi NTB terus mendorong anggotanya untuk menjawab tingginya kebutuhan tersebut. Untuk daerah-daerah yang harga dasar tanahnya tinggi, pengembang menyiasatinya dengan menyesuaikan luasan tanah untuk membangun satu unit perumahan subsidi.

“Ketentuannya, minimal luas tanah 60 meter persegi. Tapi saya lihat tidak ada yang luasan tanahnya menggunakan acuan minimum ini,” paparnya.

Sementara untuk daerah-daerah yang harga dasar tanahnya masih bisa negosiasi. Pengembang masih cukup leluasa membangun perumahan subsidi. Misalnya, untuk proyek milik PT. Baiti Jannati yang akan dibangun sebanyak 300 unit tahun ini di Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Luas bangunan disesuaikan 36 meter persegi.

“Tergantung kawasan, kalau lokasi pembangunan, harga tanahnya masih bisa disesuaikan. Pengembang otomatis akan menyesaikan luasanya. Harga rumah subsidi sudah tidak bisa di utak atik, tidak bisa dikurangi dan tidak bisa dilebihkan,” demikian H. Ma`ruf. (bul)