Ekonomi NTB 2018 Diproyeksi Ibarat Musim Semi

Mataram (Suara NTB) – Rasanya tak berlebihan apabila tahun 2017  dikatakan sebagai tahun yang penuh dinamika. Khususnya bagi perekonomian NTB. Terbatasnya kuota ekspor tambang berdampak pada menurunnya ekspor luar negeri secara signifikan. Terutama di kuartal pertama dan kedua tahun 2017.

Kondisi itu berdampak pada pertumbuhan ekonomi NTB 2017 yang diprediksi menurun. Namun apabila pertumbuhan ekonomi dihitung tanpa sektor tambang, pertumbuhannya masih cukup baik dan dipredikasikan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional, ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga.

Cerita lika – liku ekonomi NTB sudah hampir tutup buku, paling tidak tutup buku untuk tahun 2017.

Apakah cerita itu akan berulang kembali tahun depan? Pengamat Ekonomi dari Bank Indonesia NTB, Hanif Galih Pratama tegas mengatakan, bergantung terhadap bagaimana setiap pemangku kebijakan menangkap peluang yang ada, kemudian merumuskannya dalam suatu kebijakan yang tepat.

Ibarat musim yang datang silih berganti, musim semi ekonomi NTB tampaknya terjadi pada tahun 2018. Itulah saat yang tepat untuk menumbuhkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang baru, layaknya bunga yang mekar di musim semi.

Sebenarnya ada apa di tahun 2018? Beragam optimisme datang takala dunia memperlihatkan laju pertumbuhan ekonomi yang mulai meningkat, paska krisis ekonomi global hampir 10 tahun silam. Pertumbuhan ekonomi global oleh IMF diprediksi meningkat di tahun 2017 sebesar 3,6 persen dan akan kembali meningkat di tahun 2018 sebesar 3,7 persen. Negara – negara maju seperti Amerika, Jepang dan negara di Kawasan Eropa  diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi Global.

Sementara, kata Hanif, negara berkembang seperti Tiongkok pun tidak ingin ketinggalan meramaikan geliat perekonomian, sehingga mendorong peningkatan laju perdagangan dunia melebih 4 persen dalam setahun terakhir.

Apakah membaiknya pertumbuhan ekonomi global tersebut bisa berdampak pada ekonomi Indonesia dan NTB?

“Tentu sangat bisa,” demikian optimismenya. Terlebih Indonesia adalah pemain besar dalam pasar ekonomi dunia, sehingga denyut perekonomian global dapat secara langsung dirasakan baik melalui jalur perdagangan maupun keuangan.

Dampak positif terhadap perekonomian Indonesia tentunya akan menular kepada perekonomian NTB, tergantung apakah kita jeli menangkap peluang-peluang yang ada.

Di jalur perdagangan misalnya, meningkatnya pertumbuhan ekonomi global akan sejalan dengan meningkatnya permintaan akan barang dan jasa, yang kemudian tertransmisikan melalui jalur ekspor-impor.

Provinsi NTB sebagai daerah penghasil, tentu berpeluang besar untuk mengambil peran sebagai eksportir pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dimaksud.

Berbagai komoditas yang dihasilkan NTB seperti komoditas pertanian dan pertambangan akan dihadapkan dengan meningkatnya permintaan pasar, sehingga seharusnya peluang meningkatkan ekspor terbuka lebar.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah sanggupkah kita memenuhi permintaan tersebut? Mengingat sebagian besar komoditas ekspor kita adalah komoditas mentah, yang rentan terhadap fluktusi harga komoditas dunia. Sebut saja komoditas bijih tembaga, mutiara, ikan laut, dan sayur-sayuran. Komoditas bijih logam sendiri bahkan mendominasi struktur ekspor NTB lebih dari 99 persen.

Oleh sebab itu, hilirisasi industri baik di agroindustri pertanian maupun industri smelter pertambangan, akan menjadi isu penting dalam pengelolaan ekonomi NTB kedepan. Hilirisasi industri bertujuan untuk menciptakan nilai tambah komoditas sehingga berimplikasi positif bagi perekonomian. Membangun industri tentunya bukan perkara mudah. Dibutuhkan modal yang tidak sedikit untuk membangun infrastruktur fisik maupun infrastruktur non-fisik. Dalam hal membangun infrastruktur fisik inilah kita memiliki peluang berikutnya, yakni di jalur keuangan dengan momentum peningkatan investasi.

Belum lama ini Indonesia mendapat kabar bahagia dari tiga lembaga pemeringkat investasi dunia : Standard and Poor’s, Moody’s, dan Fitch Rating yang menaikan peringkat investasi Indonesia ke kategori layak investasi. Kabar bahagia juga datang dari World Bank, yang menaikkan peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business) Indonesia ke peringkat 72 dari 190 negara.

Artinya dalam 2 tahun terakhir, peringkat EODB Indonesia telah 34 peringkat. Sebuah quantum leap yang mencerminkan tingginya kepercayaan investor dunia untuk menanamkan modal ke Indonesia, tak terkecuali NTB di dalamnya.

Tidak berhenti sampai di situ, pada tahun 2018 IMF dan World Bank akan menggelar hajatan akbar yakni IMF-World Bank Annual Meeting, dengan menghadirkan 15.000 peserta dari 189 Negara. Kegiatan yang diseleggarakan di Bali pada Oktober 2018 tersebut, akan menjadi berkah bagi Indonesia selaku tuan rumah karena akan memberikan dampak ekonomi yang tidak sedikit. Provinsi NTB selaku Provinsi tetangga, tentu memungkinkan untuk “kecipratan” rezeki dari event besar tersebut, mengingat besar kemungkinan peserta kegiatan juga akan berwisata ke Lombok.

Sederet peluang di atas hanya akan berlalu begitu saja apabila kita tidak lihai memanfaatkannya.

Dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru, penguatan modal fisik saja tidak cukup. Tantangan yang tidak kalah beratnya adalah bagaimana menyiapkan Sumber Daya Manusia NTB yang handal sebagai modal utama penggerak ekonomi daerah.

Dalam mengembangkan sebuah industri, Provinsi NTB memiliki keunggulan komparatif dari sisi rata-rata upah tenaga kerja yang rendah, terendah kedua setelah Provinsi Lampung. Hal ini dapat menjadi insentif bagi pengembangan industri yang bersifat padat karya. Namun demikian pengembangan industri tetap membutuhkan tenaga kerja dengan spesifikasi tertetu, khususnya dari aspek tingkat pendidikan.

Tantangan yang paling dekat adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan pekerja di NTB, yang lebih dari 60% nya masih memiliki tingkat pendidikan SMP ke bawah. Rendahnya tingkat pendidikan tersebut tak ayal membuat produktifitas tenaga kerja NTB kurang bersaing bila dibandingkan tenaga kerja di provinsi lain. Hal ini menjadi peringatan dini untuk segera diperbaiki, sebab dewasa ini arus migrasi pekerja lintas daerah semakin mudah. Kita tentu tidak menginginkan pembangunan NTB yang saat ini tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh penduduk lokal karena kalah bersaing dengan tenaga kerja dari luar.

Isu kualitas tenaga kerja tersebut tidak hanya untuk sektor industri semata, melainkan juga untuk sektor pariwisata, yang digadang-gadang menjadi mesin penggerak ekonomi NTB ke depan dengan KEK Mandalika sebagai lokomotif nya. Memperbanyak lulusan sekolah kejuruan siap kerja saja ternyata tidak cukup kuat menjawab permasalahan ketenagakerjaan NTB, di mana tingkat pengangguran justru banyak terdapat pada mereka yang lulusan SMK.

Adanya Miss and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja tersebut perlu dijawab dengan membangun sebuah jembatan informasi yang kokoh. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pelaksanaan magang industri yang lebih intensif bekerjasama dengan dunia usaha. Dengan demikian, calon pekerja menjadi lebih memahami seluk-beluk industri yang dijalani sedari awal, dan sistem pendidikan yang ada pun lebih mudah untuk menyesuaikan diri dalam memenuhi kebutuhan dunia kerja.

Dengan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru, diharapkan menjadi solusi yang tepat di tengah fenomena urbanisasi pekerja NTB yang saat ini tengah terjadi. Pertumbuhan ekonomi yang lebih merata juga akan menjawab permasalahan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, yang juga merupakan indikator keberhasilan pengelolaan ekonomi daerah. (bul)