Restoran Sari Laut Bantu Kehidupan Nelayan

Mataram (Suara NTB) – Menjamurnya restoran seafood atau sari laut di Pulau Lombok berdampak positif bagi kehidupan para nelayan. Restoran tersebut membantu penyerapan ikan hasil tangkapan mereka. Ikan laut yang masih segar, menjadi kebutuhan utama bagi restoran. Jumlah restoran sari laut sepertinya masih perlu dilipatgandakan supaya hasil tangkapan para nelayan habis terserap.

Cerita tentang nelayan miskin tak pernah ada habisnya. Nelayan yang bermukim di pesisir masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Selain karena mata pencaharian mereka yang kurang menjanjikan, keterampilan untuk terlibat sebagai pelaku dalam bidang pariwisata juga tak ada.

Baca juga:  Bawang Putih Sembalun Belum Bisa Bersaing dengan Produk Impor

Para nelayan masih mengandalkan hasil jerih payah mereka di laut untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kalau disini, semua ikan yang menjadi bahan baku kita serap dari nelayan lokal. Kita memang tidak membeli secara langsung, tetapi kita mengambil dari suplayer yang memang datang kesini,” tutur I Wayan Kibik pengelola Restoran Sari laut New Furama, Rabu (22/3).

Sejak menjamurnya restoran sari laut, para nelayan tidak perlu repot-repot menawarkan ikan hasil buruan mereka ke pengepul. Saat bersandar di tepi pantai – sepulang dari aktivitas melaut – mereka cukup menyerahkan hasil tangkapan ke pembeli yang sudah menunggunya. Ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan selalu ditunggu-tunggu oleh para pembeli.

Baca juga:  PKL di Pantai Ampenan Menolak Direlokasi

Ikan-ikan laut yang berhasil mereka tangkap, dibeli untuk pemenuhan kebutuhan restoran. Dalam sebulan, restoran sari laut mampu menghabiskan ikan laut seberat tiga kwintal. Terhitung rata-rata 10 kg perhari.

“Kalau musim seperti sekarang ini, paling kita mampu menghabiskan 10 kilogram perhari. Beda dengan musim ramai kunjungan wisatawan,” terang Balik.

Baca juga:  Pakar Kuliner, William Wongso Sebut Terasi Lombok Terasi Paling Enak

Kendati demikian, sejumlah nelayan yang bermukim agak jauh dari lokasi restoran sari laut mengemukakan sesuatu yang berbeda. Seperti cerita dari nelayan di Tanjung Karang misalnya, mereka mengaku belum meraih kesejahteraan dari hasil bekerja sebagai nelayan. Saat hasil tangkapan ikan mulai berkurang, mereka terpaksa harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Demikian juga ketika hasil tangkapan mereka banyak, keuntungan yang mereka peroleh juga sangat tipis. Pengepul membeli ikan-ikan hasil buruan mereka dengan harga yang sangat rendah. (met)