Pengamat : Pertumbuhan Ritel Modern Perbesar Ketimpangan di NTB

0
130

Mataram (suarantb.com) – Pengamat Ekonomi Universitas Mataram, Prof. Dr. H. Mansur Afifi menyatakan bahwa pertumbuhan ritel modern berpengaruh terhadap meningkatnya ketimpangan antara masyarakat kaya dan miskin di NTB. Hal tersebut diungkapkan  saat ditemui suarantb.com di kantornya, Rabu, 8 Maret 2017.

Menurutnya, ritel modern tentu akan mengambil pangsa pasar yang sudah ada. “Pasar kita kan terbatas jumlahnya. Jadi kalo pemainnya semakin banyak maka segmen pasar itu semakin kecil. Ada segmen pasar usaha lain yang akan diambil oleh pemain baru,” ujarnya.

Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan bersama mahasiswanya tentang pengaruh ritel modern. Ia menggunakan 3 model, mulai ritel modern yang bejarak kurang dari 500 meter, 1 kilometer, dan di atas 1 kilometer dengan toko kelontong.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa semua toko kelontong pada area tersebut mengalami tingkat penurunan. “Meskipun tingkat penurunannya berbeda-beda,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan bahwa dari segi daya saing, toko kelontong akan kalah daya saingnya dibanding ritel modern ini.  Ia  menambahkan  tiga  hal yang membuat ritel modern memiliki daya saing yang tinggi. Pertama, modal besar yang dimiliki ritel modern, seperti fasilitas kenyamanan yang ditawarkan tentu memilki daya saing lebih dibanding toko kelontong tradisional.

Kedua, barang yang didatangkan melalui distributor dalam skala besar. Hal itu bisa membuat biaya distribusi menjadi kecil dan harga bisa diturunkan. “Makanya ritel modern itu akhirnya punya banyak toko, satu kontainer itu bisa menyuplai beberapa minimarket,” ujarnya.

Terakhir, strategi pemasaran yang lebih unggul karena menguasai dari hulu ke hilir. Dari distributor besar langsung ke retailnya. Hal-hal tersebut yang menyebabkan ritel modern bisa terus menawarkan diskon karena strategi bisnis mereka yang lebih canggih.

  Sekda Dompu Diperiksa Polda NTB Terkait Kasus K2

“Sehingga usaha kecil semakin terpuruk. Dengan kondisi ini jelas sekali bahwa usaha kecil ini akan kalah bersaing. Minimal omzetnya menurun,” ungkapnya.

Mansur tidak menampik jika NTB membutuhkan retail modern. Sebagai kota yang berkembang, tentu ritel modern juga dibutuhkan. Terlebih, segmen pasar untuk ritel ini memang telah ada. Namun pertumbuhan yang tidak dibatasi menurutnya akan menimbulkan ketimpangan. “Karena sumber daya ekonomi yang ada hanya dikuasai satu kelompok saja,” ujarnya.

Sehingga menurutnya pertumbuhan ekonomi menjadi tidak inklusif. Artinya yang menikmati pertumbuhan tersebut hanya kelompok tertentu saja. Dalam kasus retail modern, pihak tersebut adalah pemilik ritel modern.

Inilah yang menurutnya membuat kesenjangan semakin lebar. Usaha masyarakat kecil yang berkurang kapasitas pasarnya, berdampak pada pendapatan yang juga menurun. Sedangkan keuntungan paling banyak, hanya didapat kelompok tertentu saja. Pemerataan ekonomi akhirnya menjadi susah terealisasikan. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven − three =