Pariwisata Belum Mempan Atasi Kemiskinan di Pesisir

Mataram (Suara NTB) – Industri pariwisata tampaknya belum mempan dalam mengatasi kemiskinan secara menyeluruh. Terutama di wilayah pesisir, warga yang tidak memiliki keterampilan – lebih memilih bekerja sebagai nelayan sepanjang hidupnya.

Potret kemiskinan di lingkar objek pariwisata masih menjadi pemandangan sehari-hari di NTB. Ketidakberdayaan masyarakat, menjadi kendala mendasar yang membatasi keterlibatan mereka pada sektor pariwisata. Masyarakat yang berada di pesisir dan tidak mengerti apa-apa – seputar dunia pariwisata – hanya menggantungkan nasib dengan bekerja sebagai nelayan.

Penghasilan para nelayan bergantung pada hasil tangkapan. Dalam sehari, para nelayan hanya mampu mengumpulkan ikan seberat dua kilogram. Ikan-ikan hasil tangkapan mereka harus dijual ke pengepul agar mereka menghasilkan uang. Harga ikan yang dijual ke pengepul tidak lebih dari angka 5 sampai 10 ribu rupiah per kilogram.

“Kadang-kadang sekali melaut, kita pulang hanya membawa jaring saja. Tidak menentu, kadang sedikit kadang banyak,” kata Marsidi (65) warga Lingkungan Tanjung Karang Bangsal, Kelurahan Sekarbela, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Jumat (3/3).

Jumlah nelayan yang berkumin di lingkar Taman Wisata Loang Baloq itu mencapai 65 orang lebih. Para nelayan tidak terserap sebagai tenaga kerja pada sektor pariwisata lantaran keterampilannya yang terbatas. Tidak ada satupun diantara komunitas nelayan lingkungan tersebut, berinisiatif mendirikan lembaga macam kelompok sadar wisata. Padahal, jika mereka sadar — para nelayan dapat menjual hasil tangkapan ikan kepada para wisatawan. Penghasilan yang akan mereka peroleh tentu jauh lebih baik ketimbang mereka menjual ke pengepul.

“Tidak, kita hanya menjual ikan ke pengepul saja,” katanya ketika ditanya tentang sistem penjualan ikan.

Sebetulnya, para nelayan memiliki peluang menjual produk laiknya ikan bakar. Seperti halnya yang dilakukan para penduduk yang bermukim di seputar Pantai Gading, sekira satu kilometer di selatan Taman Wisata Loang Baloq.

  Polres Loteng Gandeng LPA Tangani Kasus Dugaan Pencabulan Anak

Terobosan untuk memajukan pertumbuhan ekonomi para nelayan yang dilakukan Satirah di Lingkungan Mapak, Kelurahan Jempong Baru adalah salah satu contoh yang bisa diteladani. Para nelayan berpartisipasi menata keindahan kawasan pantai. Tujuanya supaya bisa dijadikan lokasi penjualan ikan bakar.

“Ikan-ikan yang dijual, merupakan hasil tangkapan para nelayan. Ada ikan tongkol, kerapu, kakap dan masih banyak jenisnya,” tuturnya.

Dengan begitu, nelayan dapat menikmati hasil mereka secara maksimal. Sejak dua tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi para nelayan di lingkungan sekitar mengalami peningkatan yang signifikan.

Satirah, tentu tidak berjuang seorang diri untuk menjadi pendekar yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ia dibantu oleh pihak pemerintah, utamanya lurah dan camat. Lurah yang menaungi lingkungan setempat, melakukan pemantauan aktifitas kepariwisataan yang diselenggarakan warganya di lapangan secara berkelanjutan. (met)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here