Dinas Perdagangan NTB Sebut Cabai yang Beredar di Mataram Bukan Impor

Mataram (suarantb.com) – Dinas Perdagangan NTB mengatakan cabai rawit kering yang beredar di pasar tradisional di Mataram  adalah cabai antar pulau dan bukan cabai impor. Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Perdagangan NTB, Dra. Hj. Putu Selly Adayani M. Si kepada suarantb.com, Jumat, 3 Maret 2017.

Menurut Selly, berdasarkan hasil pantauan pihaknya di Pelabuhan Lembar, Pelindo serta Balai Karantina di Lembar, cabai yang beredar tersebut merupakan cabai antar pulau, yakni berasal dari Jawa. “Cabai itu dipastikan bukan dari India, itu cabai antar pulau, dari Jawa,” ujarnya.

Menurutnya, jika cabai yang beredar adalah impor, dipastikan terdapat label pada kemasan cabai tersebut. Namun menurut Selly, di karungan cabai yang terpantau di Lembar tidak ada label yang menyebutkan bahwa cabai tersebut diimpor dari India dan Thailand.

“Kalau cabai impor itu di karungnya ada label, dari India atau Thailand, tapi ini kan tidak, jadi ini cabai antar pulau,” tambahnya.

Lebih lanjut, jenis cabai impor dipastikan lebih kering dari yang beredar di pasaran. Selly memastikan bahwa cabai impor memilki tekstur yang lebih kering. Sedangkan yang beredar di pasaran memilki tekstur setengah kering dan berukuran lebih besar.

“Kalau cabai kering impor itu biasanya digunakan di pabrik-pabrik, untuk buat saos, dan itu kering sekali,” katanya.

Menurut peraturan yang berlaku, Kementerian Perdagangan hanya mengatur aturan cabai rawit segar. Karena langsung bersinggungan dengan petani,“Jadi pemerintah ndak mau petani dirugikan karena impor cabai basah ini,” imbuhnya.

Sedangkan untuk cabai kering, pemerintah tidak mengeluarkan izin impor. Sehingga cabai ini dapat masuk pasar Indonesia secara bebas.

Ditanya terkait kemungkinan impor cabai segar, Selly menungkapkan bahwa impor benar-benar dibutuhkan jika harga cabai terlampau tinggi dan tidak ada stok cabai di daerah.

  Polda NTB Legowo Kasus K2 Dompu Diambil KPK

“Kalau harga terlalu tinggi, dan kita tidak bisa menghasilkan disini, maka harus impor agar masyarakat tidak resah. Tapi kalau barangnya ada, tapi harganya tinggi, kalau dimasukkan impor jadi ribut nanti,” ujarnya.

Sehingga menurutnya pemerintah selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk impor. Khususnya untuk komoditas yang langsung bersinggungan dengan petani. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here