Bisnis GNE Sebaiknya Fokus Pengolahan Produk Unggulan

Mataram (Suara NTB) – PT. Gerbang NTB Emas (GNE) sebaiknya fokus mengembangkan bisnis pengolahan produk unggulan daerah. Bukan mengembangkan bisnis yang sudah dijalankan masyarakat seperti usaha pencucian kendaraan dan perbengkelan.

Pemerhati Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Mataram (Unram), Dr. Firmansyah, M. Si mengatakan adanya saran dari anggota dewan supaya GNE tidak masuk kepada bisnis yang sudah dijalankan masyarakat ada benarnya. Artinya, Pemda ingin meningkatkan perekonomian NTB, termasuk masyarakatnya. Maka, semangat didirikannya sebenarnya untuk  mengisi ruang-ruang bisnis yang belum diisi oleh masyarakat.

“Memang perlu ditelaah, kira-kira ruang apa yang sekiranya tidak mematikan bisnis masyarakat. Tetapi kalau skala bisnisnya pangsa pasar di NTB masih luas. Artinya, ketika GNE masuk tidak merubah pemasukan dari swasta, ndak masalah,” kata Firmansyah ketika dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 20 September 2017.

Kajian bisnis yang diminta DPRD, menurut Firmansyah merupakan hal  positif untuk menjelaskan bagaimana prospektif perusahaan daerah tersebut ke depan. “Ketika ditambah modal atau anggaran pemerintah. Karena persaingan bisnis ini makin kencang, belum lagi pertimbangan kelesuan ekonomi, memang perlu analisa investasi apa yang menguntungkan,” imbuhnya.

Pemprov NTB mengajukan perubahan Perda tentang PT. GNE ke DPRD. Pengajuan perubahan Perda itu kaitan dengan penambahan modal dasar PT. GNE menjadi Rp 75 miliar. Saat ini, jumlah penyertaan modal Pemprov NTB ke PTM GNE sudah mencapai Rp 20 miliar. Dengan tambahan penyertaan modal sekitar Rp 55 miliar, PT. GNE akan mengembangkan tujuh unit bisnis, salah satunya perbengkelan dan cuci kendaraan.

Menurut Firmansyah, perlu ada kajian bisnis sebelum pemberian penyertaan modal itu. Sejauhmana penyertaan modal yang akan

diberikan mampu menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari aktivias bisnis yang dilakukan.

Ia menyatakan PT. GNE memang harus berbenah. “Bentuk investasi apa yang mau dikerjakan. Saya pikir untuk menganalisa perkembangan, kajian itu  bagus,” katanya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram ini mengatakan secara detail dirinya belum melihat perkembangan bisnis GNE. Menurutnya, GNE harus fokus mengembangkan usaha yang sesuai dengan core bisnisnya. “Kalau core bisnisnya tidak menjanjikan, iya memang sebaiknya jangan dipaksanakan,” sarannya.

Ia menambahkan, PT. GNE perlu melakukan inovasi bisnis. Pasalnya, hampir semua ruang-ruang bisnis sudah terisi. Jika ingin memasuki bisnis yang sudah ada, seperti perhotelan maka harus ada ang luar biasa atau punya kelebihan sehingga konsumen tertarik. Apa ruang-ruang yang bisa memberikan keuntungan. Kemudian apa support pemerintah yang bisa memberikan ruang keuntungan,” katanya.

Firmansyah mengatakan pentingnya evaluasi bisnis secara berkala. Termasuk juga evaluasi terhadap SDM yang ada. Semakin ketatnya persaingan bisnis saat ini menuntut pengelola BUMD untuk berpikir keras.

Menurutnya peluang bisnis masih terbuka lebar di NTB terutama dalam pengolahan produk unggulan. Bila perlu mengolah produk-produk unggulan yang ada menjadi produk setengah jadi atau produk jadi. Hal ini, katanya, butuh koordinasi dengan SKPD terkait.

Ia mengatakan, persoalan yang dihadapi selama ini kaitan dengan pasar. Dari sisi produksi sudah cukup bagus. Ketika sudah di pasar, masih belum mampu bersaing.

“Bicara pasar berarti kualitas produk, kapasitas. Saya sepakat kalau GNE ini bisa masuk ke produk-produk unggulan kita. Kalau itu yang kita prioritaskan, maka perputaran uang ada di daerah. Sehingga menggerakkan ekonomi masyarakat,” tandasnya. (nas)