SDM Nelayan KLU Belum Siap Kelola Kapal Tangkap

Tanjung (Suara NTB) – Kelompok nelayan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) diklaim tidak siap mengelola kapal tangkap dengan kapasitas menengah ke besar. Alasan inilah yang membuat dinas belum bisa merealisasikan pengadaan kapal tangkap, selain karena jumlah anggaran “titipan” dewan yang belum mencukupi.

Kepala Dinas Perhubungam Kelautan Perikanan Lombok Utara, Agus Tisno, melalui Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Wayan Suartana, Minggu, 30 Juli 2017 membenarkan dana pengadaan kapal tangkap terpaksa dialihkan pada program lain. Pengadaan kapal yang diminta oleh Dewan kapasitasnya cukup besar yakni 25 GT.

“Permintaan kapal dari kelompok kebesaran sedangkan anggarannya juga tidak cukup. Yang diminta 25 GT, itu kebutuhan dananya sekitar Rp 1 miliar lebih, sedangkan dana yang tersedia Rp 695 juta,” kata Suartana.

Seumpama bisa direalisasikan pun, Suartana pesimis pemanfaatan kapal akan berjalan maksimal. Pasalnya biaya operasional yang dibutuhkan sangat besar. Begitu pula SDM kelompok nelayan tidak siap untuk mengoperasionalkan mesin kapal. “Mereka butuh

tapi SDM tidak siap. Untuk ukuran 10 GT saja, minyaknya habiskan 150 liter sekali jalan. Jadi selain siap SDM, kelompok juga dituntut siap biaya operasional,” ujarnya.

Suartana melanjutkan, dalam meningkatkan kapasitas SDM kelompok nelayan telah diarahkan untuk meningkatkan SDM. Saat ini nelayan tengah melatih kecakapannya pada dua kapal dari Bulukumba yang ada di Bayan dan Kayangan.

Saat ini di Lombok Utara, terdapat 74 kelompok nelayan dengan keanggotaan 1.088 orang yang didata by name by address. Namun demikian masih ada sejumlah nelayan yang belum masuk atau bersedia bergabung dalam kelompok. Dengan tidak tergabungnya nelayan ke dalam kelompok, ia khawatir nelayan individu akan kesulitan mengakses permodalan dan bantuan pemerintah.

“Untuk saat ini nelayan kita fasilitasi dengan bantuan seperti armada semut. Pengadaannya baru 4 unit. Kita juga diversifikasi alat tangkapnya seperti dengan jaring dan pancing. Kelamahan nelayan kita di KLU jarang pakai jaring tongkol hanya pakai pancing, sehingga kita coba ajarkan gunakan jaring tongkol,” tandas Suartana. (ari)