Amaq Zaenal, Sang Pemanjat 100 Pohon Kelapa Per Hari

Selong (Suara NTB) – Amaq Zaenal alias Sapiah dikenal dengan panggilan si pemanjat kelapa. Sebutan itu karena keseharian dari pria paruh baya ini bekerja sebagai pemanjat kelapa. Memanjat pohon kelapa ini adalah mata pencahariannya yang digelutinya sejak puluhan tahun silam.

Kini jam terbang memanjat kelapa tidak saja di di Kampungnya Desa Tirtanadi Kecamatan Labuhan Haji. Namun sudah melanglang buana ke sejumlah daerah hingga ke Malaysia. Alasan tidak ada penghasilan yang baik di negeri Jiran tersebut, ia lebih memilih kembali ke kampung halamannya.

Sapiah pun kini bolak balik ke Pulau Sumbawa untuk mengambil memanjat kelapa. Dalam sehari ia bisa memanjat pohon setinggi 20-40 meter itu sebanyak 60-100 pohon. “Saat muda dulu saya bisa sehari sampai 100 pohon,” tuturnya kepada Suara NTB, Kamis, 29 Juni 2017.

Baca juga:  Pemprov Terjunkan 900 Mahasiswa Berantas Kemiskinan

Memanjat kelapa diakui penuh risiko. Akan tetapi tidak adanya pekerjaan lain yang ia bisa membuatnya tetap bertahan. Bahkan kini dia telah berhasil mendidik anak-anaknya untuk ikut sebagai tukang panjat kepala.

Upah yang didapat katanya tergantung seberapa kuatnya ia menanjaki pohon-pohon kelapa untuk diambil buahnya. Semakin banyak, katanya semakin besar pula upah yang didapat. Hitungannya satu pohon dihargai Rp 5 ribu. Ketika bisa ditaklukkan 20 pohon, maka sudah Rp 100 ribu di tangan.

Upah Rp 5 ribu per pohon tetap disyukurinya. Asalkan setelah selesai memanjat, ia dikasih upah langsung. Selama ini, acap kali si pemilik pohon kelapa tidak langsung memberikan upah. Ia pun terkadang hanya dikasih upah makan.

Menjadi tukang panjat pohon tak beranting itu katanya awalnya sangat susah dilakoni. Tuntutan ekonomi keluarga membuatnya memberanikan diri untuk menantang maut memanjat pohon-pohon tinggi tersebut hingga berkali-kali.

Baca juga:  Mahasiswa Turun ke Desa, Penurunan Angka Kemiskinan Diprediksi Lebih Cepat

JIka kondisi tubuh sedang bagus, dalam sehari bisa memanjat puluhan pohon. Tugas memanjat pohon kelapa ini ditugasi pemilik tak hanya mengambil buah kelapa, namun harus pula memangkas daun-daun kelapa agar buahnya semakin banyak.

Sang anak, Zaenal yang turut mengikuti jejak ayahnya mengaku menekuni kehidupan sebagai pemanjat kelapa itu karena tidak ada pekerjaan lain. Lulusan SMA ini pun turut mengikuti langkah sang ayah ke Sumbawa. Sudah pasti jauh dari keluarga hingga beberapa pekan lamanya. Besar keinginannya ia tidak selamanya menjadi tukang panjat kelapa. Pengakuannya, tidak selamanya fisik akan kuat bertahan memanjat pohon kelapa yang tinggi. (rus)